Senin, 10 Desember 2018

Kapan Waktu Terbaik Mencari Tiket Liburan Akhir Tahun?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi gaya liburan (pixabay.com)

    Ilustrasi gaya liburan (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Akhir Desember menjelang tahun baru adalah salah satu waktu favorit keluarga untuk berlibur baik ke tujuan domestik maupun luar Indonesia. Jika Anda ingin bepergian dengan pesawat untuk liburan akhir tahun, disarankan untuk mencarinya sejak jauh-jauh hari.

    Baca: Langkah Mudah Mencegah Kulit Rusak Usai Liburan

    Kapan sebaiknya kita mulai mencari tiket pesawat murah untuk liburan jelang tahun baru? "Tiga bulan sebelumnya, apalagi untuk rute yang jauh," kata Via Wahab, Operation Outbound Panen Tour di Garuda Indonesia Travel Fair 2018, Jakarta Convention Center, Jumat 5 Oktober 2018.

    Ilustrasi liburan bersama keluarga

    Waktu tiga bulan bisa dimanfaatkan untuk membanding-bandingkan harga tiket pesawat di pameran-pameran wisata untuk mencari harga termurah. Selain itu, Anda juga bisa mengatur rute perjalanan yang terbaik dalam jangka waktu yang tersisa.

    Salah satu yang patut diingat adalah harus mengalokasikan waktu untuk membuat visa. Ada kalanya proses membuat visa memakan waktu cukup lama. "Visa Eropa bisa (makan waktu) sebulan," kata Via yang sudah menawarkan tur-tur liburan tahun baru sejak Agustus.

    Baca: Foto Liburan Hanya Gunakan Handphone? Intip Tips Fotografi Ini

    Tujuan favorit wisatawan asal Indonesia bervariasi, dari Asia, Eropa hingga Amerika. Di Asia, Korea Selatan dan Jepang masih jadi primadona tempat liburan akhir tahun.

    Untuk Eropa, ada dua karakteristik wisatawan yang lazim ditemui. Mereka yang senang berbelanja biasanya bepergian ke wilayah Eropa barat seperti Prancis, Swiss dan Belanda sementara pencinta sejarah dan pemandangan bisa memuaskan keingintahuan di Eropa bagian Timur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian Kominfo Memblokir Situs-Situs dengan Konten Radikal

    Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir 230 situs dan menghapus ribuan konten radikal dari berbagai platform.