Senin, 10 Desember 2018

Waspada Swafoto, Akibatnya Bisa Maut! 80 Persen Korbannya Pria

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasangan kekasih melakukan selfie. couponraja.in

    Ilustrasi pasangan kekasih melakukan selfie. couponraja.in

    TEMPO.CO, Jakarta - Swafoto atau selfie dianggap wajar dan tak membahayakan di era media sosial, namun sebuah penelitian menemukan bahwa fenomena itu bisa berujung maut.

    Baca juga: Gaya Raffi Ahmad Selfie dengan Para Pejabat di Asian Para Games

    Periode tahun 2011 dan 2017, sebanyak 259 orang tewas saat  selfie secara ekstrem, menurut penelitian di US National Library of Medicine, dilansir DPA, Selasa.

    Sebagian besar kematian terjadi di lokasi berbahaya, seperti gedung-gedung tinggi, pengunungan, dan pinggir jalan. Penyebabnya pun beragam, ada yang karena tenggelam, kecelakaan transportasi, atau terjatuh.

    Hasilnya pun bervariasi berdasarkan wilayah, setengah dari semua kematian akibat swafoto tercatat di India. Sementara itu, sebagian besar kematian terkait swafoto disebabkan senjata api terjadi di Amerika Serikat.

    Rata-rata usia yang terbunuh adalah berusia 22 tahun, dengan hampir 80 persen yang tercatat adalah pria.

    Berdasarkan penelitian, angka-angka yang diberikan mungkin tidak lengkap karena menjadi sesuatu dari fenomena baru, kematian akibat swafoto, jarang dilaporkan.

    "Penting untuk menilai beban, penyebab, dan alasan yang sebenarnya untuk kematian swafoto sehingga dapat dilakukan intervensi yang tepat," kata penulis studi.

    Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti menyarankan agar pengelola lokasi membuat tanda peringatan mengenai bahaya ber-swafoto. Di Mumbai sudah ada 16 zona seperti itu, sementara tindakan serupa juga telah diberlakukan di Rusia dan Indonesia.

    Baca juga: Dysmorphia Snapchat: Tren Negatif Selfie, Waspada Gangguan Mental


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian Kominfo Memblokir Situs-Situs dengan Konten Radikal

    Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir 230 situs dan menghapus ribuan konten radikal dari berbagai platform.