Senin, 10 Desember 2018

Pelancong Indonesia Suka Booking Mendadak, Ini Perbandingannya

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Traveler Kadek Arini berfoto di depan moda transportasi kereta api. Ia menyarankan pelancong menggunakan transportasi massal saat liburan untuk mengurangi emisi gas. (Foto: Kadek Arini)

    Traveler Kadek Arini berfoto di depan moda transportasi kereta api. Ia menyarankan pelancong menggunakan transportasi massal saat liburan untuk mengurangi emisi gas. (Foto: Kadek Arini)

    TEMPO.CO, Jakarta - Para pelancong Indonesia ternyata tak membutuhkan waktu lama untuk riset sebelum melakukan perjalanan. Bahkan, perilaku pelancong menunjukkan kecenderungan untuk memesan hotel di waktu-waktu terakhir. Berdasarkan studi yang dilakukan Google dan TNS, sebanyak 96 persen pemesan hotel mengatakan riset merupakan hal yang penting dilakukan sebelum memutuskan untuk melakukan pemesanan.

    Baca: Tip Menghasilkan Foto Insta-Friendly untuk Pelancong Millenial

    Rata-rata pelancong di Indonesia membutuhkan waktu 13 hari untuk riset sebelum memutuskan untuk melakukan pemesanan hotel. Jangka waktu tersebut terbilang cepat jika dibandingkan dengan traveler dari negara lain seperti Jepang (22 hari) dan Selandia Baru (25 hari).

    Menurut Industry Manager - Travel Google Indonesia Zulfi Rahardian, hal yang pertama kali menjadi pertimbangan bagi pelancong Indonesia adalah harga dan lokasi akomodasi. Kemudian, baru mulai mempertimbangkan aspek lainnya seperti promosi, fitur yang ditawarkan hotel, dan kawasan sekitar hotel. Terakhir, sebelum benar-benar memesan kamar, maka pertimbangan utama kembali pada harga, promosi, dan ketersediaan. “Price and promo masih jadi aspek utama buat masyarakat Indonesia,” kata Zulfi di Kantor Google Indonesia, di Jakarta, Selasa 9 Oktober 2018.

    Zulfi juga mengatakan dalam kondisi hari-hari biasa, 24 persen dari seluruh pemesan hotel melakukan booking pada waktu-waktu terakhir yakni 1 hari sebelum keberangkatan atau bahkan pada hari keberangkatan itu sendiri. Angka tersebut membengkak pada waktu peak season atau musim puncak liburan hingga sekitar 32 persen. “Orang-orang semakin spontan, mereka merencanakan trip-nya pada akhir-akhir. Misalnya mendadak ingin pergi berlibur saat weekend atau tadinya cuma mau pergi sehari, tapi tiba-tiba memutuskan buat extend,” kata Zulfi.

    Vice President of Marketing Traveloka Kurnia Rosyada mengatakan bahwa dia melihat adanya tren yang sama di layanan mereka, terutama untuk tujuan dalam negeri yang tidak terlalu jauh dari tempat asal wisatawan. “Kalau (destinasi liburan) yang dekat kan lebih familiar jadi lebih spontan, kalau yang jauh misalnya ke Tokyo itu kan butuh perencanaan jadi biasanya lebih terencana,” kata Kurnia.

    Baca: Petugas Imigrasi Selandia Baru Meminta Password Ponsel?

    Maka dari itu, kata Kurnia, mereka juga membuat fitur khusus yang memudahkan pengguna untuk melakukan pemesanan instan pada waktu-waktu terakhir.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian Kominfo Memblokir Situs-Situs dengan Konten Radikal

    Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir 230 situs dan menghapus ribuan konten radikal dari berbagai platform.