TEMPO.CO, Jakarta - Meghan Markle dan Pangeran Harry sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka. Kabar bahagia yang ditunggu-tunggu tersebut dikonfirmasikan secara langsung oleh pihak Istana Kensington pada Senin, 15 Oktober 2018. Dilansir dari HelloMagazine, saat ini kehamilan Meghan Markle diperkirakan sudah berusia 12 minggu.
Baca: Meghan Markle Hamil 3 Bulan dan Lalui Perjalanan 20 Jam
“Yang Mulia Duke dan Duchess of Sussex dengan penuh kebahagiaan mengumumkan bahwa Duchess of Sussex sedang mengharapkan kelahiran bayinya pada musim semi 2019,” kata pihak Istana Kensington dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir People, merujuk pada gelar yang disandang keduanya.
Menjadi ayah baru tidak mudah bagi sebagian orang. Apakah kira-kira Pangeran Harry bisa beradaptasi menjadi ayah baru?
Keterlibatan ayah dalam pengasuhan memang sangat dibutuhkan. "Anak tidak hanya membutuhkan kenyamanan dari ibu, tapi juga interaksi dengan ayah untuk melatih kognitif, aspek sosial, dan perkembangan emosi," kata Rini Hildayani, psikolog Universitas Indonesia kepada Tempo pada 2015 silam.
Seorang anak laki-laki membelai jenggot Pangeran Harry, dengan disaksikan istrinya, Meghan Markle, Duchess of Sussex, di lapangan di Croke Park, Dublin, Irlandia, Rabu, 11 Juli 2018. Anggota Kerajaan Inggris ini sedang melakukan kunjungan hari kedua ke Irlandia. AP/Dominic Lipinski
Sejumlah riset menunjukkan banyak dampak positif peran aktif ayah dalam pengasuhan bagi anak. Satu yang dikutip Rini adalah penelitian Dokter Paul Ramchandani dari Imperial College London pada 2012. Riset tersebut menunjukkan bayi yang sejak usia 3 bulan berinteraksi intensif dengan ayahnya tumbuh jadi bayi yang minim masalah perilaku pada usia 12 bulan. Studi itu menyatakan anak yang banyak didampingi ayahnya akan tumbuh dengan lebih bahagia secara psikologis.
Penelitian lain menunjukkan bayi yang banyak berinteraksi dengan ayahnya-- termasuk dalam kegiatan pengasuhan dan bermain--secara kognitif memiliki nilai lebih tinggi pada usia 6 bulan dibandingkan sepantarannya yang minim interaksi. Dampak positif peran ayah terus dirasakan sampai masa remaja.
Penelitian itu menyatakan anak yang dekat dengan ayahnya memiliki rata-rata nilai akademis lebih tinggi ketimbang teman-temannya pada usia 7 tahun. Di usia remaja, mereka terbukti jadi pribadi yang lebih toleran ketimbang seumurannya yang tidak lengket dengan ayahnya. Emosi mereka juga lebih stabil dan tidak rentan stres.
Masalahnya, belum banyak orang tua yang menyadari pentingnya peran ayah dalam pengasuhan. Saat ini, kampanye baru sebatas "Ayah Siaga", siap antar jaga selama kehamilan. Seolah-olah, setelah bersalin, pengasuhan sepenuhnya jadi tanggung jawab ibu. Sedangkan ayah kembali ke peran awalnya, mencari nafkah.
Meghan Markle dan Pangeran Harry. Instagram/@kensingtonroyal
Upaya mendekatkan ayah-anak sering terbentur peran ayah sebagai "penegak hukum" dalam keluarga. Mudah didapati ibu yang menakut-nakuti anaknya bahwa ayah akan marah jika si anak emoh melakukan perintah ibu. Walhasil, anak tergerak atas dorongan ketakutan pada bapaknya.
Bukan berarti ayah yang dekat dengan anaknya melunturkan disiplin dalam keluarga. Kenyamanan dan rasa sayang yang terbangun antara ayah dan anak, Rini melanjutkan, bisa membuat anak lebih patuh. "Ini penerapan disiplin yang lebih menyenangkan," ujarnya.
Baca: Kerajaan Inggris Umumkan Meghan Markle Hamil
Maka, sesibuk apa pun orang tua, Rini melanjutkan, ia perlu meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak. Masa sebelum tidur merupakan waktu paling tepat untuk membangun kedekatan, baik lewat mengobrol, bercerita, maupun membacakan dongeng.
KORAN TEMPO