Gawat Darurat Matematika, Ini yang Harus Dilakukan Orang Tua

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi matematika (pixabay.com)

    ilustrasi matematika (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Para peneliti dalam Deklarasi Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika di Universitas Indonesia (UI) Depok, Sabtu, 10 November 2018, menyebutkan bahwa kemampuan matematika siswa di Indonesia tidak berkembang seiring bertambahnya tingkat sekolah .


    Baca juga: Anak Indonesia Gawat Darurat Matematika, Apa Itu? Cek Dampaknya

    Dalam siaran persnya, disebutkan juga bahwa kondisi gawat darurat Matematika yang terjadi pada siswa Indonesia rupanya belum beranjak sejak tahun 2000. Data IFLS (Indonesia Family Life Survey) pada 2000, 2007 dan 2014 yang mewakili 83 persen populasi Indonesia juga menunjukkan kedaruratan bermatematika. 

    “Survey IFLS ini menunjukkan kemunduran kompetensi siswa secara akut. Kita tidak boleh mengabaikan temuan-temuan ini jika bangsa Indonesia ingin lebih baik, tidak bangkrut atau bubar karena kualitas SDM bangsa ini dari tahun ke tahun mengalami penurunan signifikan,” kata Presidium Gernas Tastaka Ahmad Rizali.

    Menurutnya, selama hampir 20 tahun reformasi, bangsa ini mengabaikan kompetensi generasi emas Indonesia. “ Akibatnya kondisi sosial politik dan ekonomi Indonesia selalu tertinggal dengan negara-negara maju hingga ,” kata Ahmad Rizali.
    ilustrasi belajar matematika (pixabay.com)
    Agar kondisi mengkhawatirkan ini tidak berkelanjutan, para aktivis dari berbagai latar belakang dan akademisi mendeklarasikan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) di Gedung Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia (UI) Depok, Sabtu 10 November 2018.

    Hadir dalam deklarasi tersebut Rektor Universitas Indonesia Prof. Muhammad Anis, mantan Wakil Menteri Pendidikan Prof. Dr. Fasli Djalal, praktisi Indra Charismiadji, dan para peneliti dari RISE (Research on Improvement of System Education) Niken Rarasati, peneliti dari Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan Chandra, akademisi Ditta Puti Sarasvati, Ketua Forum Literasi Jakarta Sururi Azis, dan Presidium Gernas Tastaka Ahmad Rizali yang juga Sekretaris Majelis Wali Amanah UI.

    Ahmad Rizali mengajak seluruh komponen masyarakat bersinergi dan saling gotong royong melakukan usaha pemberantasan buta matematika ini. Tidak hanya pemerintah tapi juga masyarakat luas. Bukan hanya praktisi pendidikan tetapi juga mahasiswa, profesional, swasta, bahkan emak-emak ibu rumah tangga.

    Pada tahap awal, Gernas Tastaka sendiri berkomitmen segera melakukan berbagai pelatihan [matematika] di sekolah-sekolah di DKI Jakarta, melatih relawan, dan berencana mendeklarasikan Gernas Tastaka di sejumlah provinsi dan kabupaten di Indonesia.

    Baca: Cara Sederhana Mengenalkan Konsep Matematika pada Anak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dijen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot Terkait Harun Masiku

    Pencopotan Ronny Sompie dinilai sebagai cuci tangan Yasonna Laoly, yang ikut bertanggung jawab atas kesimpangsiuran informasi kasus Harun.