Begini Kisah Budaya India Muncul Pada Kain Tenun Sumba

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga membuat tenun ikat khas Sumba di Desa Prailiu, Sumba Timur, 24 Juni 2017. Kerajinan kain tenun dengan pewarna alami tersebut banyak dikembangkan warga sebagai bisnis sampingan di bidang pariwisata. ANTARA/Nyoman Budhiana

    Seorang warga membuat tenun ikat khas Sumba di Desa Prailiu, Sumba Timur, 24 Juni 2017. Kerajinan kain tenun dengan pewarna alami tersebut banyak dikembangkan warga sebagai bisnis sampingan di bidang pariwisata. ANTARA/Nyoman Budhiana

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengaruh kebudayaan di India telah memberikan pengaruh kepada sejumlah kebudayaan di Indonesia, salah satunya pada kain tenun di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

    Baca juga: Kain Tenun Sumba Bergaya di Panggung Vienna Fashion Week

    Fotografer dari Komunitas Indonesia Professional Photographer Association (IPPA), Ria Indriani Pasaman menceritakan perjalanan dia mengelilingi Pulau Sumba. Dia pun berhasil menelusuri jejak sejarah dalam motif yang ada di tenun Sumba, khususnya Tenun Sumba Timur.

    Tenun Sumba, kata Ria, adalah kain tenun yang penuh makna karena dibuat oleh para pengrajin perempuan secara turun-temurun. Salah satu contoh yang paling memikat adalah kain ikat Patola Bunga dari Kambera. Ria menyebut, berdasarkan sejarahnya, kain bermotif Patola ini adalah motif dari India.

    Begitu pula sarung Pahikung bermotif gajah. Pasalnya, dalam perkawinan tangan wanita memakai gelang yang terbuat dari gading gajah. Bisa juga sebagai lambang atau bawaan dalam acara perkawinan.

    Beberapa contoh unik lain temuan Ria adalah selendang motif Patola Bunga dan selendang Pahikung alias tenun songket yang berasal dari Desa Watuhadang. Tenun ini memiliki cerita bahwa masyarakat harus melestarikan alam agar seluruh isi yang tersedia di dalamnya tidak punah.

    Kain dengan motif Patola memang adalah motif peninggalan dari para pedagang asal Gujarat, India. Di Sumba dan kepulauan Nusa Tenggara Timur, motif Patola ini menjadi lambang kebesaran atau strata yang tinggi.
    Satu kain tenun syal dikerjakan selama seminggu, sedangkan kain yang lebih lebar dikerjakan mencapai 2 bulan. TEMPO/ Nita Dian
    Kain ini akhirnya digunakan hanya untuk upacara adat yang penting, dan tarian adat. Pembuatan kain bermotif Patola juga cukup rumit, sehingga seringkali diasosiakan adanya campur tangan ilmu gaib selama proses pembuatan. Selain menjamur di Sumba, motif Patola juga mewabah sampai ke Sikka, Pulau Flores, NTT.

    Alhasil, kain Patola yang berkembang di Indonesia sebagian besar didominasi oleh ragam corak seperti binatang, manusia, tumbuhan, dan benda-benda lain yang geometris. Kain dengan motif Patola ini memang akhirnya memiliki harga yang tinggi karena keunikan bentuk dan juga cerita mistik yang terkandung di dalamnya.

    Sementara itu, ada pula kain bermotif ayam. Kain tenun dengan motif ini adalah lambang atau salah satu simbol untuk sembahyang dalam acara Merapu. Tradisi Merapu adalah upacara adat sebagai bentuk sembahyang bagi para leluhur yang dilakukan melalui kayu atau batu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lembaga Survei: 5 Hal Penting dalam Quick Count Pilpres 2019

    Perkumpulan Survei Opini Publik angkat bicara soal quick count di Pemilu dan Pilpres 2019 yang diragukan kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.