Pelestarian Kain Tenun Sering Terhambat, Ini Solusinya

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kain tenun Lombok. Shutterstock

    Ilustrasi kain tenun Lombok. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Sangat disayangkan apabila tenun terancam punah karena minimnya usaha pelestarian. Belum lagi ada anggapan bahwa menjadi penenun bukan menjadi pekerjaan yang menjanjikan. Padahal, selain untuk melestarikan kebudayaan, menenun juga bisa menjadi aktivitas untuk menambah pemasukan keluarga. Guna menjawab hal tersebut, Cita Tenun Indonesia (CTI), perkumpulan para pecinta tenun dari berbagai profesi, memberikan pembinaan teknis kepada perajin tenun di berbagai daerah, sehingga lebih berkualitas.

    Ketua CTI Okke Hatta Rajasa mengatakan melalui program-program pelestarian hingga pengembangan, diharapkan dapat memajukan industri tenun Indonesia. Salah satu tantangan yang tengah dihadapi oleh masyarakat adalah cara pandang. Seperti profesi penenun yang kurang menjanjikan, hingga kain tenun hanya dapat digunakan untuk acara adat. “Mindset (pola pikir) mereka perlu diubah, makanya kami melakukan pendekatan dengan pelatihan dan pendampingan. Bukan hanya pelatihan bagaimana mereka menenun, tapi juga hingga pemasaran,” kata Okke ditemui di Pasific Place dikutip Sabtu 17 November 2018.

    Ilustrasi kain tenun Lombok. Shutterstock

    Dia mengatakan CTI juga memberikan pembinaan dalam hal promosi dan menyesuaikan kain dengan kebutuhan konsumen agar bisa membantu memperkenalkan tenun dalam dan luar negeri. Setiap program pelatihan dilakukan selama 1 tahun untuk setiap daerah dan CTI juga bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti antropolog, ahli tenun, ahli pewarna, perancang mode, perancang interior, dan ahli pemasaran. Sehingga, para penenun mendapatkan suntikan semangat untuk menghasilkan karya yang optimal.

    Kendati begitu, Okke melanjutkan pekerjaan rumah untuk mendorong industri tenun tak hanya sampai di situ. Pasalnya masih ada permasalahan lain yang perlu diperhatikan lebih lanjut, seperti masalah bahan baku yang kurang memadai. “Karena tidak semua penenun di beberapa daerah menanam bahan bakunya sendiri,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.