Masalah Sanitasi Berkaitan dengan Stunting, Simak Dampaknya

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak dengan stunting. nyt.com

    Ilustrasi anak dengan stunting. nyt.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Menurut Menteri Kesehatan Nila Moelek, sanitasi memang berkaitan erat dengan stunting alias kondisi tinggi badan seseorang lebih pendek dari tinggi badan orang lain seusianya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, satu dari tiga anak di Indonesia menderita stunting. "Akses terhadap sanitasi yang baik berkontribusi pada penurunan stunting sebesar 27 persen," tutur Nila. Akibat permasalahan sanitasi ini, Indonesia mengalami kerugian ekonomi Rp 56,7 triliun per tahun untuk membayar ongkos pengobatan dan akomodasi.

    Baca: Saran Ahli Gizi agar Anak Terhindar dari Stunting

    Berdasarkan data Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, hingga Oktober 2018 tercatat ada 23 kabupaten kota dan hanya satu provinsi, yakni Daerah Istimewa Yogyakarta, yang telah mencapai prestasi seratus persen warganya tidak buang air besar sembarangan dan tidak lagi mengandalkan toilet terbuka. Toilet terbuka ini meningkatkan kerawanan sosial terhadap perempuan.

    Menurut Badan Kesehatan Dunia, hingga saat ini, perempuan di seluruh dunia masih belum memiliki akses toilet yang tepat. Di sekolah-sekolah, ketersediaan toilet higienis yang adaptif terhadap kebutuhan menstruasi perempuan masih kurang. Fenomena serupa juga mudah ditemui di tempat-tempat umum lain, kecuali di tempat belanja yang sudah dikelola secara modern.

    Ilustrasi toilet duduk. victoriaplum.com

    Penelitian terbaru yang dilakukan sejumlah peneliti dari Columbia University Mailman School of Public Health menunjukkan akses ke toilet pribadi bagi perempuan kurang memadai. Hal ini didasarkan pada desain, pedoman, dan penempatan toilet yang baik untuk perempuan dan anak perempuan. "Terutama di daerah kumuh perkotaan dan kamp-kamp pengungsian," kata peneliti utama, Marni Sommer.

    Penelitian ini menunjukkan toilet untuk perempuan sering tidak memiliki keamanan memadai, seperti pintu tidak bisa dikunci dengan baik dan tidak memiliki tepat sampah khusus untuk membuang pembalut. "Sehingga sering mengakibatkan stres, malu, ketidaknyamanan fisik, bahkan memicu kekerasan berbasis gender," ucap Sommer.

    Baca: Waspada Anak Susah Makan, Stunting Mengintai

    Ia mengatakan kesulitan menemukan toilet yang nyaman di luar rumah bagi perempuan menstruasi menyebabkan mereka, khususnya anak perempuan, kerap menahan diri dari aktivitas di luar rumah, seperti bersekolah atau pergi ke pasar. 

    KORAN TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H