Rabu, 19 Desember 2018

Sering Stres, Manusia Modern Rentan Terkena Psikosomatik

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Kiichiro Sato

    AP/Kiichiro Sato

    TEMPO.CO, Jakarta - Manusia modern yang hidupnya sarat dengan stres yang dia sadari atau tidak sebenarnya sangat rentan mengalami psikosomatik. Hal ini disebabkan karena hampir dalam setiap kehidupannya manusia modern terpapar stres baik dari sisi fisik maupun psikologis. "Bayangkan keluar rumah dengan tingkat polusi yang tinggi juga adalah membuat stres. Belum lagi ritme pekerjaan yang ketat dan dipenuhi tenggat waktu membuat manusia modern lebih mudah stres," kata Psikiater Klinik Psikosomatik Omni Hospital Alam Sutera Andri dalam keterangan tertulisnya pada 29 November 2018.

    Baca: Kenapa Bising Bisa Picu Masalah Kardiovaskular? Cek Risetnya

    Psikosomatik sendiri adalah istilah untuk merujuk pada kondisi gangguan fisik yang terkait dengan masalah psikologis. Sejak lama sebenarnya masalah psikosomatik ini dikenal. American Psychosomatic Society sendiri berdiri di tahun 1934 dan sejak saat itu penelitian di bidang psikosomatik terus dikembangkan. Jaman sebelum bidang neurosains berkembang seperti sekarang, dokter masih sulit menjelaskan tentang bagaimana seseorang bisa mengalami psikosomatik. "Pasien biasanya kebingungan mengapa dirinya mengalami berbagai macam gejala fisik namun pemeriksaan medis tidak menemukan adanya masalah berarti pada organ yang mengalami gejala fisik tersebut," katanya.

    Jauh sebelum neurosains bisa menjawab permasalahan yang terjadi pada pasien psikosomatik, kita hanya mengira bahwa kondisi psikosomatik disebabkan oleh stres. Namun bagaimana stres tersebut dan apa jenis stres yang menyebabkan psikosomatik masih tanda tanya, sampai akhirnya saat ini begitu banyak penjelasan terkait bagaimana stres bisa mempengaruhi terjadinya psikosomatik.

    Masalah psikosomatik terjadi lebih sering dikaitkan dengan masalah ketidakseimbangan sistem saraf otonom yaitu saraf parasimpatis dan simpatis. "Stres yang menyebabkan gangguan psikosomatik yang berlangsung lama biasanya stres yang bersifat kronis atau menahun," kata Andri.

    Kondisi stres yang akut atau yang tiba-tiba biasanya menimbulkan gejala psikosomatik sesaat. Contohnya saat kita menghadapi ujian atau wawancara kerja, sebagian dari kita mungkin merasa ingin buang air terus menerus atau menjadi keluar keringat dingin.

    Dulu nenek moyang purba kita stres karena menghadapi binatang buas, saat ini manusia modern stres karena menghadapi kemacetan dan beban kerja yang tinggi. Kondisi ini sayangnya berlangsung kronis atau bertahun-tahun sehingga akhirnya menimbulkan masalah jika adaptasi manusia tersebut tidak baik. Masalah adaptasi memang menjadi sumber masalah utama. Tidak semua mudah untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang cepat dan tuntutan akan hal-hal yang ada dalam kehidupan sehari-hari. "Itulah yang membuat pasien psikosomatik sering kali kesulitan untuk mengatasi keadaanya sendiri dan akhirnya berkunjung ke banyak dokter untuk mengurangi gejala fisik yang tak kunjung sembuh," katanya.

    Terapi Untuk Pasien Psikosomatik

    Pasien psikosomatik membutuhkan pendekatan fisik dan psikologis. Tentunya jika sudah mengalami gejala psikosomatik tidak langsung diminta berpikir positif langsung baik gejalanya. Aktivitas saraf otonom yang berlebihan yang sudah lama dialami perlu segera distabilkan. Pengobatan dengan obat antidepresan dan sedikit anticemas bisa membantu.

    Namun pengobatan dengan obat tidak akan banyak membantu atau hanya bersifat sementara jika tidak dibantu dengan perubahan pola hidup menjadi lebih sehat atau lebih baik lagi dalam adaptasi diri. Kesulitannya adalah pola perilaku sehat yang mau dibentuk terhalang dengan masalah keseharian yang sering kali datang dan sepertinya sulit diadaptasi. Inilah masalah kompleks untuk mengatasi psikosomatik. Di satu pihak gejala mungkin membaik dengan pengobatan dan bisa membaik terus sampai beberapa bulan bahkan tahun, namun kemungkinan kambuh masih ada. "Saya pernah meminta pasien mengurangi pekerjaan yang membuatnya stres berkepanjangan, pasiennya malah agak kesal karena menganggap dia tidak bisa meninggalkan apa yang sedang dia jalankan," katanya.

    Baca: Awas Efek Domino Stres, Cek 2 Cara Ini Agar Tak Mewabah

    Padahal saat di awal terapi dan Andri meminta untuk mengurangi beban kerja dan dia melakukan, keadaan gejalanya membaik dengan segera. Inilah dilema manusia modern. Ingin banyak yang dilakukan tetapi sebenarnya otak tidak mampu untuk mengatasi masalah tersebut. "Saya pikir tantangan ke depan terkait kasus psikosomatik di praktik akan semakin banyak seiring dengan semakin kompleknya kehidupan serta kondisi stres manusia yang sering sukar ditangani dirinya sendiri karena ketidakmampuan mengatasi kondisi kesehariannya. Semoga kita semua akan menjadi orang yang lebih baik lagi ke depannya termasuk dalam pengendalian stres," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.