Senin, 17 Desember 2018

Salah Pola Makan Biang Kerok Masalah Kesehatan

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi makan bersama (pixabay.com)

    ilustrasi makan bersama (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Gaya hidup yang tidak sehat terutama pola makan menjadi salah satu alasan mengapa kepuasan masyarakat akan kesehatan menurun, seperti yang diungkapkan dalam survei AIA Healthy Living Index 2018.

    Baca: Tahu Beda Nasi Kapau dan Nasi Padang?

    Hal tersebut juga sejalan dengan temuan Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018. Dokter spesialis gizi Raisaa E Djuanda mengatakan karena gaya hidup seperti pola makan yang tidak sehat berbanding lurus dengan meningkatnya pravalensi penyakit tidak menular.

    "Mengadopsi pola makan sehat tidak sesulit yang dibayangkan. Sebagai langkah awal, perbanyak konsumsi sayur dan buah serta membatasi konsumsi makanan kemasan," kata Raisaa.

    Dia mengatakan asupan total lemak sebaiknya tidak melebihi 30 persen dari total asupan energi konsumsi sayur dan buah yaitu setidaknya 400 gram per hari. "Selain itu, masyakarat disarankan untuk menjaga porsi saat mengonsumsi makanan berkalori tinggi. Dengan diet yang seimbang dan rutin berolahraga dapat membantu mengurangi risiko obesitas, kanker, jantung, diabetes dan penyakit tidak menular lain," katanya.

    Baca: Diet Enak Bahagia Menyenangkan Sedang Populer, Bagaimana Caranya?

    Laila Munaf, instruktur zumba dan pemilik Sana Studio, menambahkan olahraga saat ini begitu mudah untuk dilakukan. Berbagai sarana olahraga bermunculan tidak hanya di kota besar. "Akses informasi yang luas juga memudahkan masyarakat untuk mencari berbagai informasi seputar olahraga sehingga olahraga di rumah pun dapat menjadi efektif," kata Laila.

    Yang terpenting, lanjutnya, keinginan dan kesadaran untuk hidup sehat dengan aktif dan rutin berolahraga. Dengan hidup sehat, kita dapat menikmati hidup yang berkualitas.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fintech Lending, Marak Pengutang dan Pemberi Utang

    Jumlah lender dan borrower untuk layanan fintech lending secara peer to peer juga terus bertumbuh namun jumlah keduanya belum seimbang.