La Nyalla Akui Sebarkan Hoax, Ini Kaitan Bohong buat Otak

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • La Nyalla Mattalitti. Dok.TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

    La Nyalla Mattalitti. Dok.TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

    TEMPO.CO, Jakarta - Eks Kader Gerindra La Nyalla Mattalitti blak-blakan mengakui bahwa dirinya pernah menyebarkan isu Presiden Joko Widodo atau Jokowi simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada pemilu 2014 silam. "Saya sudah minta maaf ke Pak Jokowi. Saya datang ke beliau, saya minta maaf bahwa saya yang isukan Pak Jokowi PKI," ujar La Nyalla saat ditemui di kediaman Ma'ruf Amin, Selasa, 11 Desember 2018.

    Baca: 4 Pernyataan Kontroversi La Nyalla yang Menyerang Prabowo

    Selain itu, ujar La Nyalla, dia juga mengaku pernah memfitnah Jokowi beragama kristen dan keturunan Cina. "Saya yang sebarkan obor di Jawa Timur dan Madura," ujar dia.

    Menurut La Nyalla, permintaan maaf-nya sudah diterima oleh Jokowi. Untuk menebus kesalahannya, La Nyalla mengaku sudah berkeliling ke berbagai daerah dan memviralkan bahwa Jokowi bukan PKI. "Saya minta maaf bahwa saya yang sebarkan isu PKI itu, saya yang ngomong Pak Jokowi PKI dan agamanya enggak jelas, saya sudah minta maaf," ujar La Nyalla.

    Berita bohond atau hoax saat ini mudah sekali disebarkan oleh seseorang dengan memanfaatkan teknologi. Sayang sekali masih ada orang yang masih berbohong, padahal sejak kecil, orang tua selalu menasihati agar kita bisa menjadi seseorang yang jujur. Bukan hanya urusan moral, ternyata berbohong juga memiliki dampak buruk bagi kesehatan otak dan tubuh.

    Baca: La Nyalla: Potong Leher Saya Kalau Prabowo Menang di Madura

    #Saat berbohong, otak akan langsung ikut terpengaruh
    Banyak studi yang menyatakan bahwa kesehatan bisa terpengaruh karena sering berbohong. Pengaruhnya pun bukan yang positif tapi yang buruk. Seperti dikutip dari Lifehack, Arthur Markman, Ph.D menyatakan saat kita baru saja berbohong, tubuh akan melepas kortisol atau hormon yang dikeluarkan tubuh saat stres ke dalam otak. Setelah beberapa menit, ingatan akan mencoba mengingat kebohongan dan kebenaran sehingga otak akan cukup kesulitan mengambil keputusan dan akan membuatnya menjadi kemarahan.

    #Ketika berbohong, stres pun meningkat
    Setelah reaksi awal itulah kemudian kita mulai merasa khawatir dengan kebohongan yang telah kita ucapkan atau khawatir ketahuan karena berbohong. Untuk mengatasi perasaan tersebut maka kita akan menutupi kebohongan dan memperlakukan orang lain lebih baik dari biasanya.

    Bisa juga sebaliknya, kita akan berpikir tidak bersalah karena berbohong sebab merekalah yang membuat terpaksa berbohong. Perbedaan pendapat dalam otak secara terus menerus ini bisa membuat stres hingga pada akhirnya kita akan merasa bersalah dan mengalami gangguan saat tidur.

    Tak berhenti di situ, dampak buruk bagi kesehatan karena berbohong pun masih akan bertambah. Tak hanya gangguan tidur, tekanan darah tinggi, sakit kepala dan punggung, kram, mual juga bisa kita alami karena stres yang diakibatkan oleh kebohongan.

    Baca: La Nyalla Blak-blakan Mengakui Sebarkan Isu Jokowi PKI di 2014

    Gangguan mental seperti kecemasan hingga depresi juga bisa kita alami karena berbohong. Jika sampai depresi maka tentu saja kita memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasinya sebab depresi tidak bisa dibiarkan karena bisa membahayakan.

    TEEN | DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.