Belajar dari Kasus Jonghyun, Jangan Sepelekan Setiap Keluhan

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah potret Kim Jong-hyun, yang lebih dikenal dengan nama panggung Jonghyun SHINee, terlihat di sebuah rumah sakit di Seoul, Korea Selatan,  19 Desember 2017. Penyanyi utama dari boy band ini mati diduga bunuh diri. AP

    Sebuah potret Kim Jong-hyun, yang lebih dikenal dengan nama panggung Jonghyun SHINee, terlihat di sebuah rumah sakit di Seoul, Korea Selatan, 19 Desember 2017. Penyanyi utama dari boy band ini mati diduga bunuh diri. AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak hal yang terjadi di akhir tahun ini. Salah satunya yang sulit dilupakan adalah kematian tragis artis K-Pop Jonghyun SHINee.

    Baca juga: Setahun Jonghyun SHINee Wafat, IU Beri Penghormatan di Konsernya

    Para penggemarnya, termasuk penyanyi IU,salah satu sahabat dekat Jonghyun SHINee, memberikan persembahan khusus di konser tunggal. Di konser yang diadakan di Singapura dalam rangka memperingati 10 tahun IU berkarier, lagu ciptaan Jonghyun SHINee ikut diselipkan.

    Kematian Jonghyun dikabarkan bunuh diri karena depresi. Meski sudah beberapa kali ditulis, masih saja menjadi pertanyaan besar. Apalagi jika bunuh diri terjadi pada sosok terkenal, orang yang sukses, bahkan sosok yang tidak kita duga seperti anak sekolah yang sedang bersemangat menjalani hidup.

    Seperti pernah disebutkan oleh Spesialis Kedokteran Jiwa dari Omni Hospital Tanggerang , Dr Andri, pada kasus-kasus tertentu, bunuh diri disebabkan oleh depresi yang sudah terjadi lama. Sayangnya, melihat mengenali seseorang yang sedang depresi itu tidak sesederhana kita melihatnya. "Seringkali malah mengabaikannya, karena kelihatannya kondisinya biasa-biasa saja," katanya.
    Ilustrasi anak depresi/murung. Shutterstock.com
    Sosok yang aktif menyuarakan tentang kesehatan jiwa lewat twitter @mbahndi ini pun menambahkan bahwa yang sering terjadi di masyarakat adalah mengabaikan keluhan yang dianggap biasa. Contohnya keluhan soal kehidupan, karier. "Bahkan diam-diam mengagap lebay terhadap orang-orang yang mengeluhkan hal tersebut," katanya.

    Padahal, keluhan yang dianggap lebay itu juga sering diungkapkan para anak muda yang masih usia sekolah. Andri pun menegaskan bahwa gejala depresi pada anak usia sekolah tidak selalu dikaitkan dengan kesedihan. "Anak-anak usia sekolah itu malah menampilkan kondisi depresi mereka, misalnya dengan perilaku berbeda. Seperti gampang marah dan sensitif. Ada juga yang merasa sendirian meski temannya banyak atau keluarganya harmonis," katanya.

    Apa yang harus dilakukan? Edukasi adalah salah satu hal penting. Sekarang ini, menurut Andri, sudah banyak komunitas yang memberi support untuk mengenali gejala dan melakukan pencegahan bunuh diri, seperti Into The Light.

    Terpenting lagi adalah bagaimana stigma atau pendapat kita saat melihat seseorang mengalami gangguan suasana perasaan, seperti depresi atau kecemasan. "Kalau kita anggap normal atau biasa saja, suatu saat, kita akan kehilangan yang bersangkutan," katanya serius. Kasus yang terjadi pada Jonghyun, bisa jadi salah satu pelajaran berharga yang bisa diambil.

    Baca juga: Info di Internet Picu Bunuh Diri? Ini Catatan untuk Orang Tua


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dijen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot Terkait Harun Masiku

    Pencopotan Ronny Sompie dinilai sebagai cuci tangan Yasonna Laoly, yang ikut bertanggung jawab atas kesimpangsiuran informasi kasus Harun.