5 Strategi Mudah untuk Atasi Konflik di Tempat Kerja untuk HRD

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi karyawan marah/jengkel. Shutterstock

    Ilustrasi karyawan marah/jengkel. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Perbedaan pendapat dan argumen di tempat kerja pasti terjadi bahkan di kantor yang paling santai sekalipun. Walaupun para profesional HR merupakan penjaga gerbang (gatekeeper) dari sebuah perusahaan, mereka perlu memiliki kemampuan untuk juga memainkan peran sebagai mediator dan penjaga perdamaian (peacekeeper).

    Baca: Tips Semangat Bekerja Setelah Libur Akhir Tahun

    Dari berbagai kepribadian karyawan dan gaya kerja yang berbeda hingga politik kantor yang berbahaya, para profesional HR harus mampu menyelesaikan semua bentuk konflik di kantor secara damai.

    Apa itu manajemen konflik? Manajemen konflik adalah salah satu keterampilan terpenting yang harus dimiliki para profesional HR untuk menangani dan menyelesaikan konflik dan perselisihan dengan cara yang efisien, adil dan masuk akal namun tetap tidak memihak.

    Bagaimana cara menangani konflik di tempat kerja? Simak 5 kiat dan strategi yang dapat digunakan oleh profesional HR untuk menyelesaikan konflik di tempat kerja seperti dilansir JobStreet.com pada akhir Desember lalu.

    Ilustrasi kerja tim / team work. Shutterstock

    1. Telinga yang mendengarkan
    Ketika menyelesaikan masalah di tempat kerja, penting untuk memahami akar penyebab konflik. Hal ini dapat dilakukan dengan bertemu dengan kedua belah pihak secara terpisah dan menjaga kerahasiaan atau konfidensial serta berbicara kepada pihak yang dirugikan. Selain memberi kesempatan kepada kedua belah pihak untuk melampiaskan rasa frustrasi mereka secara sehat, HRD juga mendapat informasi mendalam tentang akar penyebab masalah yang mendasarinya.

    Dari situlah, rencana dan tindakan dapat dibuat untuk menyelesaikan masalah secara damai untuk kedua belah pihak. Kadang-kadang, konflik dapat dengan mudah diselesaikan dengan memberikan pihak yang dirugikan sebuah kesempatan untuk mendiskusikan masalahnya.

    2. Menjaga pintu tetap terbuka
    Pihak yang dirugikan bisa merasa sangat frustasi ketika mengangkat sebuah masalah kepada HRD hanya untuk diabaikan atau diminta pergi. HRD sering berurusan dengan banyak permintaan dalam satu waktu dan mungkin tergoda untuk mengabaikan keluhan karyawan karena menganggap itu hanya keluhan biasa. Dalam banyak situasi, para profesional HR dianggap "lepas" (disconnected) dari tenaga kerja yang seharusnya mereka wakili.

    Hal ini sebaiknya tidak terjadi karena karyawan yang tidak bahagia dapat dengan mudah kehilangan motivasi yang dalam jangka panjang akan menjadi karyawan yang beracun (toxic employees) dan turnover karyawan menjadi lebih tinggi. Karyawan beracun tidak hanya sulit diatur, tetapi mereka juga mampu menabur ketidakharmonisan dalam perusahaan yang dapat menyebabkan masalah yang jauh lebih besar.

    Baca: 3 Zodiak yang Terkenal Gila Kerja, Anda Termasuk?

    Oleh karena itu, para profesional HR harus mengadopsi kebijakan pintu terbuka (open door policy) ketika berhadapan dengan karyawan. Hal ini tidak hanya mengirim pesan positif kepada karyawan yang lain, tetapi juga menjaga agar HRD tetap mendengarkan apa yang terjadi di lapangan. Dengan demikian, HRD akan dapat dengan mudah mengidentifikasi karyawan yang bermasalah atau masalah lainnya terkait manajemen talent di dalam perusahaan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.