Pernikahan Putra Mahkota Paku Alam X, Ini Prosesi Paling Sakral

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prosesi Panggih Dhaup Ageng Putra Mahkota Paku Alam X/Pura Pakualaman

    Prosesi Panggih Dhaup Ageng Putra Mahkota Paku Alam X/Pura Pakualaman

    TEMPO.CO, Yogyakarta -  Pernikahan Putra Mahkota Paku Alam X, Bendara Pangeran Hario (BPH) Kusumo Bimantoro dengan Maya Lakshita Noorya bertajuk Dhaup Ageng telah memasuki tahap resepsi Sabtu-Minggu 5-6 Januari 2019. Namun sebelum resepsi, kedua mempelai menjalani prosesi puncak yakni panggih. Prosesi ini dilakukan setelah kedua mempelai melangsungkan akad nikah pada Sabtu 5 Januari 2019 pagi.

    Prosesi Panggih Dhaup Ageng Putra Mahkota Paku Alam X/Pura Pakualaman

    Baca: Menikah, Putra Mahkota Paku Alam X Gunakan Batik yang Sakral

    Prosesi Panggih Dhaup Ageng Putra Mahkota Paku Alam X/Pura Pakualaman

    Dalam prosesi panggih yang dilangsungkan pada pukul 10.00 di Bangsal Sewotomo, Pura Pakualaman itu kedua mempelai dipertemukan untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri. Sebelumnya keduanya dipingit selama tiga hari di tempat terpisah dan tak boleh bertemu.

    Upacara panggih diawali oleh tarian Dirbolo Singkir, yang merupakan tarian khas kerajaan Pakualam, yang hanya ditampilkan pada momen khusus di lingkungan Kerajaan Pakualaman.

    Menyusul tarian Dirbolo Singkir, pengantin pria, BPH Kusumo Bimantoro diantarkan oleh adik dari KGPAA Paku Alam X serta adik dari Gusti Putri Paku Alam X menuju Bangsal Sewotomo. Kemudian pengantin perempuan Maya Lakshita Noorya diantarkan menuju Bangsal Sewotomo oleh para sesepuh perempuan.

    Prosesi Panggih Dhaup Ageng Putra Mahkota Paku Alam X/Pura Pakualaman

    Dalam prosesi panggih ini mempelai wanita dan mempelai pria menggunakan busana Paes Ageng, yang biasa dikenakan dalam upacara pernikahan dalam kerajaan Jawa.

    Setelah keduanya bertemu di Bangsal Sewotomo, pengantin wanita sungkem dan mencium kaki dari pengantin laki-laki. Kemudian, kedua mempelai berjalan menuju pelaminan yang ada di bagian utara Bangsa Sewotomo. "Dalam tradisi Jawa, prosesi paling sakral itu adalah panggih. Kalau dalam agama Islam paling sakral akad nikah," ujar panitia Tim Pranatan Lampah-Lampah Dhaup Ageng Mas Ngabehi Citropanambang.Prosesi Panggih Dhaup Ageng Putra Mahkota Paku Alam X/Pura Pakualaman

    Citro menuturkan Panggih masuk dalam prosesi paling sakral di prosesi adat Jawa karena pengantin baru diketemukan pertama kalu. "Dulu kan pengantin biasanya belum pernah ketemu, karena dulu kan banyak pasangan dijodohkan orang tuanya," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.