Musim Hujan Tiba, Tips Mencuci Jas Hujan Agar Tidak Rusak

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jas hujan yang bagian bahunya dimodifikasi seperti payung. Tabloidbintang

    Jas hujan yang bagian bahunya dimodifikasi seperti payung. Tabloidbintang

    TEMPO.CO, Jakarta - Musim hujan telah tiba. Hujan akhir-akhir ini melanda beberapa daerah Indonesia, termasuk Jakarta. Jas hujan dan payung menjadi salah satu senjata yang penting untuk dibawa ke manapun. Jas hujan wajib dibawa selama musim hujan. Namun, karena sifatnya yang tidak menyerap air, banyak orang berpikir jaket hujan tidak perlu sering dicuci

    Baca: Ini Dampak Buruk Ketika Mobil atau Motor Tak Dibilas Usai Hujan

    Padahal jas hujan justru perlu dibersihkan dengan seksama karena jika tidak, akan mulai bau akibat kotoran, debu, dan keringat yang menempel ke dalam bahan, demikian keterangan pers yang diterima Antara pada Jumat 11 Januari 2019.

    Meski demikian, jas hujan tidak bisa dicuci seperti baju biasa karena terbuat dari bahan khusus yang membuatnya tahan air.

    Berikut beberapa tips untuk membersihkan jas hujan dengan benar versi Timberland:

    1. Mengenal bahan jas
    Jas hujan pada umumnya terbuat dari bahan yang memiliki pori-pori kecil agar bahan tetap bisa bernafas, dengan demikian kelembaban, termasuk keringat, bisa menguap dengan mudah dan bukannya mengembun di dalam jaket.

    Kemudian, bagian luar bahan jas diberi lapisan tambahan yang disebut sebagai "durable water repellent (DWR)" untuk memberi perlindungan ekstra dari air. DWR menyebabkan air membutir dengan cepat supaya bisa menggulir dari jas dengan mudah.

    Hal tersebut mencegah air terdiam lama di atas bahan dan menyerap secara perlahan ke dalam bahan. Bahan-bahan tersebut memerlukan penanganan khusus.

    2. Jas hujan bisa mengalami "wet out"
    Jaket yang sering dipakai akan terekspos panas, hujan, keringat, minyak kulit, dan kotoran yang semuanya akan menyebabkan DWR perlahan-lahan luntur. Akibatnya, jas akan mudah lembab ketika terkena air dan pemakai tidak akan lagi terlindungi dari basah seperti dahulu. Proses ini disebut sebagai "wet-out".

    Kedatangan Presiden Jokowi ke booth jas hujan modis, Ame Raincoat menjadi berkah tersendiri.

    3. Dicuci secara khusus
    Untuk mencegah terjadinya "wet-out" pada jas, semua kotoran dan minyak yang menyebabkan lunturnya lapisan DWR perlu dibersihkan.

    Namun, jas hujan tidak boleh dicuci dengan deterjen biasa karena kimia di deterjen terlalu keras bagi bahan DWR. Sebaiknya, bacalah instruksi cara pencucian yang tertera di label jas. Jika tidak yakin bisa mencuci sendiri, kirimkan jas ke binatu atau jika tetap ingin mencuci sendiri, gunakan cairan pencuci khusus untuk jas hujan. Cairan ini biasanya tersedia di toko online.

    4. Jangan terlalu sering dicuci
    Mencuci jas hujan terlalu sering akan menghilangkan lapisan DWR dengan cepat, mengingat bahwa lapisan ini akan terkikis setelah beberapa kali pencucian. Sebagai gantinya, lap semua kotoran dengan kain bersih setelah menggunakan jas dan angin-anginkan jas untuk mengeringkan sisa lembab.

    5. Mengembalikan lapisan DWR yang luntur
    Jika jas hujan mudah lembab, itu berarti lapisan DWR telah luntur. Namun jangan khawatir karena lapisan DWR dapat dikembalikan dengan membeli cairan DWR yang bisa dibeli secara online.

    Baca: Jakarta Sering Hujan, Ini Makanan Terlezat Hangatkan Badan

    Tutup resleting jaket terlebih dahulu lalu semprot cairan DWR ke seluruh permukaan luar jas dan beri lapisan tambahan pada area-area yang lebih terekspos atau sering bergesekan dengan benda lain, seperti bagian bahu yang sering terkena tali ransel.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.