Perkuat Budaya Korporat, Solusi Hadapi Gejolak

Reporter:
Editor:

Dini Pramita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi atasan dan bawahan. shutterstock.com

    Ilustrasi atasan dan bawahan. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Tahun 2019 dianggap sebagai tahun penuh gejolak yang dapat diatasi dengan memperkuat budaya korporat. Ditandai dengan pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi lebih rendah ketimbang tahun lalu. Hingga ketegangan politik dengan segala rivalitas di antara pengikut fanatik kedua belah kubu yang bisa mengancam keharmonisan hubungan kerja dalam perusahaan.

    Baca: Tips Teknologi: Menghindari Serangan Siber dari Mantan Karyawan

    Kondisi ini kerap digambarkan sebagai VUCA, yaitu penuh gejolak (volatility), ketidakpastian (uncertainty), rumit (complexity), dan serba kabur (ambiguity). Menurut CEO Dale Carnegie Indonesia Paul J. Siregar, untuk mengatasi kondisi ini, diperlukan sebuah budaya perusahaan yang kuat dan pemimpin positif. “Budaya perusahaan yang kuat adalah kultur yang mengedepankan keterlibatan karyawan, dan ini menjadi krusial,” kata dia.

    Paul menjelaskan budaya perusahaan sangat penting karena menjadi satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menghadapi lingkungan yang berubah. “Lewat budaya di lingkungan kerja ini pula karyawan bisa melihat bagaimana peran mereka dalam organisasi, berhubungan dengan atasan, memecahkan masalah, serta memahami tujuan perusahaan,” kata dia. Dia menekankan para pemimpin harus menyadari pentingnya keterlibatan karyawan supaya perusahaan bisa tumbuh dengan baik.

    Baca juga: 5 Strategi Mudah untuk Atasi Konflik di Tempat Kerja untuk HRD

    Menurut Paul, untuk membangun budaya tersebut, perusahaan harus mengatasi tiga ancaman internal terlebih dahulu yaitu tekanan produktivitas, transparansi, dan retensi karyawan. Setelah ketiga hal tersebut teratasi, hal yang dibutuhkan selanjutnya adalah pemimpin yang tepat. “Pemimpin yang menginspirasi tumbuhnya emosi positif menjadi faktor penting untuk mewujudkan budaya perusahaan yang kuat ini,” kata dia.

    Sementara itu, menurut survei terbaru Dale Carnegie & Associates di lima negara (Jerman, Polandia, India, Amerika Serikat dan Indonesia), sebanyak 45 persen pemimpin merasa tekanan untuk meningkatkan produktivitas menjadi tantangan utama untuk membangun budaya yang kuat. Sebanyak 39 persen merasa transparansi di tempat kerja dan meningkatnya arus keluar-masuk karyawan adalah penyebab sulitnya membangun culture yang baik di perusahaan atau divisi yang mereka pimpin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.