Saat Jokowi Remehkan Usaha Kaesang Pangarep

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersama puteranya Kaesang Pangarep, mengecek makanan saat merayakan pergantian tahun dengan makan bersama anggota Paspampres dan pegawai Istana Kepresidenan Bogor di Istana Kepresidenan Bogor, Senin, 31 Desember 2018. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersama puteranya Kaesang Pangarep, mengecek makanan saat merayakan pergantian tahun dengan makan bersama anggota Paspampres dan pegawai Istana Kepresidenan Bogor di Istana Kepresidenan Bogor, Senin, 31 Desember 2018. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo alias Jokowi mendorong agar anak-anak muda di Indonesia memanfaatkan kesempatan di berbagai bidang. "Saya pikir anak-anak muda dengan dinamikanya sekarang cepat sekali menangkap 'opportunity' (kesempatan) di berbagai titik, sangat beda sekali dengan saya memulai dulu, sekarang ada 'fashion stylist', ada barista, ada fotografi dan macam-macam dan itu bisa menghasilkan (uang) semua dan tidak sedikit," kata Jokowi di acara Festival Terampil di Jakarta pada Sabtu 9 Februari 2019.

    Baca: Jokowi: Warung Kopi Lokal Tak Kalah dari Merek Asing

    Festival Terampil adalah kegiatan kolaborasi antara Kementerian BUMN melalui "Spirit of Millenials BUMN" dengan Inisiator Indonesia untuk membuat pelatihan bagi anak muda. Tahun ini ada lima kelas keterampilan populer yang diajarkan oleh para pakar yaitu "fashion", fotografi, bisnis digital, "make up" dan membuat kopi.

    Presiden Jokowi pada Ahad, 10 Februari 2019, mengakui kesuksesan bisnis pisang nugget yang dirintis anaknya, Kaesang Pangarep, dengan merek Sang Pisang. Melalui cuitan di akun Twitter-nya, @jokowi, ia mengatakan sempat meremehkan usaha rintisan anak bungsunya itu (sumber: Twitter)

    "Saya dulu melihat (anak saya) yang kecil jualan pisang nugget goreng, 'Ini apa toh?' Saya lihat produknya, maaf saya agak meremehkan pertama-tama, tapi begitu anak saya yang kecil ini sudah memiliki 54 cabang, saya tanya 'Le, ini ongkos produksi berapa? Untung berapa? Saya ditunjukkan, omzet per outlet, warungnya berapa, langsung saya kalikan 54, loh pabrik saya yang gede kalah sama dia," ungkap Jokowi.

    Jokowi pun mengakui bahwa anak-anak muda sekarang punya peluang untuk melakukan apapun karena terjadi perubahan ekonomi global maupun nasional sekaligus perubahan landscape sosial, politik dan ekonomi. "Jadi perilaku-perilaku kita juga berubah, kopi juga punya peluang yang sangat besar untuk dikembangkan. Jangan kalah brand-brand kita dengan brand-brand asing," kata Jokowi menegaskan.

    Jokowi mengaku sempat mencoba kopi yang dijual oleh salah satu "brand" kopi asing untuk membandingkan rasa dan harganya. "Saya coba semua, kalau ketemu saya 'ngopi' di 'brand' asing, jangan dipikir saya seneng 'ngopi' di situ, nanti 'diklik' dikatakan Jokowi suka 'brand' asing, tidak usah saya sebut 'brandnya', saya hanya mau membandingkan harganya dan rasanya. Lalu saya masuk satu outlet ukurannya hanya 5x4 meter, yaitu 'Tuku' pemiliknya masih muda sekali, mau masuk saja 'ngantri', ini apa ngantri panjang sekali?" cerita Jokowi.

    Jokowi pernah datang ke Toko Kopi Tuku di Cipete pada 3 Juli 2017 lalu. "Saya beli, saya coba, saya rasa-rasakan tidak kalah dengan 'brand' asing itu, betul, artinya kita dapat melakukan itu lalu saya bandingkan harganya, satu cangkir harganya Rp18 ribu, saya bandingkan dengan (brand asing) di sana Rp60 ribu, Bagaimana saya suruh ke 'brand' asing rasa sama persis di sini Rp18 ribu yang sana Rp60 ribu," ungkap Jokowi.

    Ia pun berharap pemilik Kedai Kopi Tuku agar segera membuka cabang di tempat lain sebanyak-banyaknya. "Buka sebanyak-banyaknya, kita harus berani, kalau perlu jejerkan 'brand' asing itu lalu Tuku di sampingnya beradu, berani tidak? Siapa menang siapa kalah? Saya yakin Tuku yang menang," kata Jokowi.

    Putera bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep melayani para pelanggannya saat peresmian gerai Sang Pisang di Surabaya, Jawa Timur, 24 Maret 2018. Gerai tersebut merupakan gerai Sang Pisang pertama di Surabaya. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Namun untuk dapat menang dalam kompetisi tersebut, Presiden menilai bahwa semua usaha anak muda harus dimulai dari bawah. "Mulailah dari yang paling kecil, anak saya (Kaesang Pangarep) mulai belok lagi, 'Pak sekarang saya bisnis lele', Ini apalagi? Hitung-hitugannya seperti apa? Waduh ini lebih gede lagi, lele itu 'demandnya' banyak sekali, tapi suplainya sedikit, tapi saya pesan mengurus hewan yang bernyawa tidak mudah, kalau tangannya tidak dingin bisa mati semua sehari, untung gede, risiko juga gede," kata Jokowi mengingatkan.

    Jokowi pun mempersilakan peserta seminar untuk mengembangkan keterampilan mereka setinggi-tingginya. "Selamat mengikuti Festival Terampil ini dan gunakan semua keterampilan yang saudara-saudara miliki, terserah tadi ada yang mau ikut fotografi hanya mau masang fotonya biar keren di Instagram tapi kalau ada peluang bisa belok ke yang menghasilkan silakan, jadi barista silakan gak ppa bisa dimulai menjadi karyawan dulu di warung-warung kopi tidak apa-apa," ungkap Presiden.

    Baca: Menjadi Barista Sehari, Jokowi Evaluasi 5 Cangkir Kopi

    Presiden pun berpesan agar anak muda tidak merasa rendah diri saat baru memulai usahanya. "Jangan merasa rendah ketika mulai bekerja melihat memiliki pengalaman baru, memiliki usaha tidak perlu tergesa-gesa tapi menurut saya masa depan hanya mililik orang-orang yang berani, milik orang-orang yang berani bekerja keras," kata Presiden tegas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Menang di Basis Nahdlatul Ulama di Jawa Tengah dan Timur

    Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang nota bene lumbung Nahdlatul Ulama, menjadi tempat Joko Widodo dan Ma'ruf Amin memanen suara dalam Pilpres 2019.