Lebih Suka Brunch Karena Tidak Terbiasa Sarapan, Apa Kata Dokter?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi sarapan (pixabay.com)

    ilustrasi sarapan (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian orang tak terbiasa sarapan. Mereka lebih suka menyiasatinya dengan brunch (breakfast and lunch) alias sarapan sekaligus makan siang. Padahal, sarapan diyakini berfungsi untuk pemenuhan nutrisi tubuh dan memengaruhi jadwal makan harian. Lantas apakah solusi ini baik jika dilihat dari kacamata medis?

    Baca: Mitos dan Fakta Seputar Sarapan, Benarkah Baik untuk Jantung?

    Spesialis Gizi Klinis dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Asih Jakarta dan RSPI Bintaro Jaya, Diana F. Suganda, menjelaskan, sebagian orang tidak terbiasa sarapan sehingga kerap mengeluhkan perut belum siap menerima asupan makanan.

    Tidak masalah makan pertama dilakukan menjelang siang sekitar pukul 10 atau 11 pagi. “Asalkan yang dikonsumsi bukan camilan atau kue saja. Asupannya tetap harus ada unsur karbohidrat, protein, dan lemak,” beri tahu Diana di Jakarta, pekan lalu.

    Setelah makan pada jam tersebut bukan berarti Anda boleh melewatkan makan siang. Ia mengkhawatirkan perut akan kekenyangan jika porsi sarapan dan makan siang digabung saat makan pertama itu. Diana mencontohkan, jika makan pertama Anda pukul 10 atau 11, maka makan siang bisa diundur menjadi pukul 1 atau 2 siang, sedangkan makan malam menjadi pukul 7 atau 8 malam.

    Waktu sarapan atau makan pertama sebenarnya fleksibel, bisa disesuaikan dengan aktivitas harian individu. Sarapan wajib bagi mereka yang melakukan aktivitas yang menuntut konsentrasi pada pagi hari. Pastikan makanan yang Anda asup mengandung karbohidrat dan protein.

    “Karena nutrisi ke otak satu-satunya adalah glukosa yang berasal dari karbohidrat. Kalau otak tidak memperoleh energi maka tubuh akan sulit berkonsentrasi dan mengantuk,” ulasnya.

    Beda lagi dengan mereka yang baru beraktivitas menjelang siang. Jam makan pertama boleh sedikit mundur. Yang penting, total asupan dalam sehari tercukupi.

    “Contohnya, wanita rata-rata membutuhkan 1500 kalori per hari, maka jumlah asupan ini harus terpenuhi. Jam makan pertama yang mundur menyebabkan jam makan siang ikut mundur. Hal ini tidak masalah terutama bagi mereka yang telah terbiasa dengan pola makan macam itu,” Diana menyambung.

    Orang yang masuk kerja pada siang atau malam hari misalnya, makan malam pada pukul 7 atau 8 malam dan baru tidur sekitar pukul 1 atau 2 pagi. Pada pukul 10 malam boleh mencamil lagi, berupa buah atau susu. Yang penting, kata Diana, asupan gizi selama 24 jam terpenuhi.

    Baca: Sarapan Kebanyakan Karbohidrat, Awas Konsentrasi Menurun

    “Makan besar pada malam hari sebenarnya diperbolehkan. Yang salah bukan kebiasaan makan tapi apa yang dimakan. Kebanyakan makanan yang dijual pada malam hari itu tinggi kalori seperti martabak atau mi instan. Selain itu, makan terakhir sebaiknya 2 atau 3 jam sebelum tidur," Diana mengingatkan.

    TABLOID BINTANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.