Pentingnya Meditasi untuk Titiek Puspa Dalam Melawan Kanker

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Titiek Puspa saat merayakan ulang tahun ke-80 di Jakarta. Tabloidbintang

    Titiek Puspa saat merayakan ulang tahun ke-80 di Jakarta. Tabloidbintang

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyanyi senior Titiek Puspa menegakkan duduknya di atas sofa. Ia merapikan kakinya, menaruh tangan di atas paha, melipat lidah ke belakang, mengunci mulut, lalu menutup mata. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan.

    Baca: Kisah Titiek Puspa Nyaris Menyerah karena Kanker Serviks

    Biduanita senior itu bersemadi. Ia rutin menjalani ritual itu delapan tahun belakangan. Lewat meditasi tersebut, ia mengobati kanker yang menjalar di rahimnya. “Dulu saya meditasi 13 hari, kanker saya bersih,” kata Titiek, 81 tahun, saat ditemui di kediamannya di Jakarta Selatan, Rabu dua pekan lalu.

    Dokter memvonis Titiek menderita kanker stadium awal, delapan tahun lalu. Pelantun tembang Kupu-kupu Malam dan Bimbi itu langsung terbang ke Singapura begitu tahu penyakit ganas tersebut tumbuh di tubuhnya. Namun bukannya menyusut, kanker itu malah menggendut. Nyeri yang awalnya berdenyut di area rahim dan genitalianya menjalar ke sekujur badan.

    Setelah Titiek menjalani terapi selama dua setengah bulan di Singapura, dokter mengatakan kankernya hampir masuk stadium III. “Saya pikir dengan tinggal di sana bisa sembuh. Ini malah tambah sakit, tambah sakit, tambah sakit, sampai akhirnya saya enggak kuat,” ujar penerima penghargaan Lifetime Achievement dalam Indonesian Choice Awards 2018 ini.

    Titiek Puspa akhirnya kabur. Ia pulang ke Jakarta. Di tengah keputusasaan, putrinya, Petty Tunjung Sari, memberinya referensi meditasi. Petty bercerita tentang kawannya yang sembuh dari stroke setelah 13 hari bersemadi. Titiek memutuskan menjajal terapi itu.

    Gurunya menyuruh Titiek bermeditasi selama satu jam lima kali sehari. Meditasi itu, kata Titiek, membuat yin dan yang dalam tubuhnya tersambung sehingga menghasilkan energi alias chi. Energi ini akan mencari titik-titik yang bermasalah dalam tubuh, lalu membereskannya.

    Selama ia bersemadi, sekujur badannya terasa dicubit, digigit, atau ditarik-tarik. Inilah tanda bahwa energi tersebut bekerja. Puncaknya terjadi pada hari terakhir. Rahim dan area genitalianya terasa seperti diserbu jutaan semut. “Haduh, rasanya itu cetot-cetot. Sakiiit,” ucapnya.

    Titiek menyebutkan rasa sakit itu perlahan lenyap, berganti dengan rasa damai. Ketika semadi berakhir, sang guru menyatakan Titiek telah pulih dari penyakitnya. Namun ia tak langsung percaya. “Masak iya, sembuh,” ujarnya.

    Baca: Ulang Tahun ke-80, Titiek Puspa Ingin Keliling Minta Maaf

    Hasil pemeriksaan tim dokter di Singapura, yang sebelumnya merawatnya, kemudian mengesahkan kesembuhan itu. Kanker yang dulu membesar telah enyah. Baik Titiek maupun para dokter dibuat melongo oleh hasil tersebut. “Mereka tanya apa yang terjadi,” tuturnya. Untuk memastikan, mereka meminta Titiek rutin mengecek kesehatan selama dua tahun. Hasilnya: ia tetap bersih dari kanker.

    Selengkapnya, baca di Majalah Tempo

    MAJALAH TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).