Debat Capres, Ekspresi Tidak Sabar Jokowi vs Gaya Komando Prabowo

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Ma'ruf Amin (kiri) bersalaman dengan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Uno (kanan) saat bersiap mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu, 13 April 2019. REUTERS/Edgar Su

    Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Ma'ruf Amin (kiri) bersalaman dengan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Uno (kanan) saat bersiap mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu, 13 April 2019. REUTERS/Edgar Su

    TEMPO.CO, Jakarta - Hal yang selalu menarik dari debat pasangan calon presiden atau capres dan calon wakil presiden atau cawapres bukan hanya kontennya, tapi juga gestur tubuh. Para kandidat mengekspresikan emosi dan karakternya dari gerakan tangan, kaki, hingga raut wajah selama debat capres berlangsung.  

    Baca: Analisis Gestur saat Debat Capres, Tegang di Awal, Damai di Akhir

    Debat kelima sekaligus terakhir dari rangkaian jelang pemilihan presiden 2019 akhirnya terlaksana di Jakarta, Sabtu, 13 April 2019. Kedua pasangan capres dan cawapres hadir dalam fromasi lengkap, nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi dan KH Ma'ruf Amin dan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno.

    Pakar bahasa tubuh Monica Kumalasari menjabarkan beberapa catatan soal bahasa tubuh para kandidat di panggung debat. Hal pertama yang menarik Monica adalah gestur manipulatif, baik Prabowo maupun Joko Widodo sama-sama melakukannya. Prabowo terlihat melepas kacamata dan membersihkannya, sementara Joko Widodo memegang-megang siku dalam waktu lama.

    Prabowo masih konsisten dengan gestur kepemimpinan komando, lewat gerakan tangan mengarah ke depan saat berbicara, serta pilihan kata yang keluar dari mulutnya. Contohnya, kata "berkuasa" saat menyebutkan masa kepemimpinan Joko Widodo yang sudah mencapai usia 4,5 tahun.

    Tidak melulu serius, ada momen ketika Prabowo-Sandi berjoget dan memijat bahu. Ini adalah salah satu cara Prabowo untuk mengatasi emosi yang meledak-ledak di panggung seperti pada debat pertama. "Padahal ini event kenegaraan di mana seharusnya gestur seperti itu tidak keluar," kata dia.

    Pakar yang meraih lisensi dari Paul Ekman itu mengatakan Joko Widodo memperlihatkan ekspresi tidak sabar saat mendengar pernyataan Prabowo mengenai ekonomi yang salah arah. "Kelihatan kakinya bergetar, pahanya bergoyang-goyang, ada ekspresi bibir dilipat ke dalam, itu emosi marah," kata dia.

    Ekspresi tidak sabar juga bisa diterjemahkan lewat gerakan mengusap-usap dagu, seakan gemas pada lawan yang tidak memberi jawaban memuaskan dari pertanyaan yang dia lontarkan.

    Jokowi pun dinilai mulai berani untuk menyinggung bila ada pertanyaan yang belum direspons dengan baik, atau mengatakan jawaban lawan tidak "nyambung" dengan pertanyaan.

    Sikap serupa juga ditampilkan Ma'ruf Amin yang bicara soal "satu persen elite" yang menguasai kekayaan negara. Prabowo langsung mengakui dirinya memang bagian dari satu persen itu.

    "Sandi dari nonverbal terlihat mengangguk, bahwa dia bagian dari satu persen itu juga."

    Ketika Jokowi bertanya soal eSport, Prabowo langsung melemparkan kesempatan pada Sandiaga Uno yang tampak belum siap untuk menjawab. Terdengar sayup-sayup Sandiaga bertanya pada Prabowo dalam bahasa Inggris apakah calon wakil presiden pada kubu tersebut yang harus menjawabnya.

    "Harusnya Prabowo jangan langsung kasih Sandiaga, mulai dulu (beri jawaban), lalu dilengkapi oleh Sandiaga," ujar Monica.

    Usai menjawab pertanyaan soal eSport Mobile Legend, yang ujungnya membahas soal pangan, Prabowo-Sandiaga saling tos. "Seakan pertanyaan itu harus dimenangkan, kalau berhasil jawab mereka tos, kayak orang lagi ulangan lalu bisa jawab, responsnya seperti itu."

    Sedangkan Ma'ruf Amin melontarkan diksi baru. Pada debat sebelumnya, Ma'ruf yang paling senior di antara kandidat lain bicara soal "10 Years Challenge", istilah yang pernah ramai di media sosial, identik dengan generasi melek internet.

    Kali ini dia mengeluarkan istilah baru: DEWI dan DEDI. DEWI adalah desa wisata dan, sementara DEDI adalah desa digital.

    Ia menilai pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin mengesankan tugas sebagai presiden dan wakil presiden adalah sebuah amanah, lewat kalimat "kita wajib bersyukur" dan kalimat Ma'ruf yang menyatakan "Apabila kami diberikan kepercayaan dan amanat memimpin bangsa ini.."

    Sementara Sandiaga Uno secara berulang-ulang menyebutkan akronim "TPS" sebagai Tusuk Prabowo Sandi ini sebagai penutup berbagai janji politik yang akan direalisasikan bila mereka terpilih sebagai Presiden-Wakil Presiden periode 2019-2024.

    Kata-kata ini memberi kesan bahwa Prabowo-Sandi adalah jawaban sakti atas semua masalah.

    BacaGerakan Tangan Jokowi dan Prabowo di Debat Capres, Apa Maknanya?

    ANTARA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sembilan Bulan Menjerat Sofyan

    Dugaan keterlibatan Direktur PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), Sofyan Basir, dalam kasus rasuah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut.