Seberapa Efektif Transplantasi Stem Cell untuk Obati Kanker?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cinta Penelope. Tabloidbintang

    Cinta Penelope. Tabloidbintang

    TEMPO.CO, Jakarta - Cinta Penelope divonis kanker stadium 3 sejak enam bulan lalu. Meski cukup terbuka tentang jenis pengobatannya, ia tidak menyebut jenis kanker diderita. Ia hanya menyebut bahwa kanker yang dideritanya itu akibat pergaulan di masa lalu dan pola hidup tidak sehat.

    BacaCinta Penelope Kena Kanker Stadium 3, Yakin Sembuh dengan 2 Cara

    Untuk mengobati penyakitnya itu, ia pun rela melakukan transplantasi sel punca (stem cell) di Singapura. Dan menurut pengakuannya, itu membuahkan hasil yang baik.

    "Aku secara pribadi ini ingin memberikan kabar gembira, karena kanker saya alhamdulillah ada peningkatan lebih baik dan mengering setelah saya stem cell dua kali di Singapura," kata Cinta Penelope di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, seperti yang dilansir dari Tabloid Bintang pada Jumat, 10 Mei 2019.

    Rencananya, ia akan melakukan melakukan transplantasi stem cell ketiganya dalam waktu dekat. Dan dokter yang menanganinya pun mengatakan bahwa ia akan sembuh dengan transplantasi tersebut.

    “InsyaAllah kedepan akan stem cell lagi ke Singapura. InsyaAllah enggak ada yang perlu ditakuti lagi. Kalau menurut dokter bismillah bisa sembuh,” katanya.

    Lalu, benarkan transplantasi stem cell dapat menyembuhkan pasien kanker? Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Clinical Oncology pada 28 Maret 2019 mungkin dapat menjadi jawabannya.

    Penelitian yang dilakukan kepada 38 ribu pasien kanker yang telah melakukan transplantasi stem cell selama 2018 ini membuktikan bahwa tidak semua pasien berhasil sembuh. Meski demikian, persentase kesembuhan selalu meningkat setiap tahunnya.

    “Pada 100 hari pasca transplantasi, kami menunjukkan kelangsungan hidup meningkat secara signifikan untuk pasien dengan kanker yang menerima transplantasi dengan risiko lebih tinggi dari 85 persen menjadi 94 persen dan transplantasi dengan risiko lebih rendah dari 63 persen menjadi 86 persen,” kata pemimpin penelitian, Theresa Hahn dari Institut Kanker Roswell Park (RPCI).

    Peningkatan juga terjadi pada satu tahun pascatransplantasi. Untuk transplantasi dengan resiko tinggi dan rendah pun mengalami kenaikan dari 48 persen menjadi 63 persen. Hahn mengatakan bahwa kenaikan yang terjadi mungkin disebabkan oleh semakin banyaknya kasus yang ditangani para ahli, serta kemajuan teknologi yang semakin presisi.

    “Meski hingga kini kami terus berusaha untuk membuat transplantasi stemcell dapat berhasil sepenuhnya, angka yang naik secara signifikan pada mantan pasien dan berbagai penyakit kanker harusnya dapat menawarkan harapan bagi pasien baru," katanya.

    Baca: Pentingnya Transpalansi Sel Dalam Kesembuhan Pasien kanker Darah  

    Ia menambahkan, dokter juga dapat memperkuat peran transplantasi sel induk darah sebagai opsi kuratif untuk kanker yang mengancam jiwa.

    Sel punca atau sel induk adalah sel yang belum berdiferensiasi sehingga dapat berkembang menjadi berbagai jenis sel yang ada di tubuh. Tranplantasi sel punca berguna untuk membentuk sel baru. Sel-sel yang baru tumbuh ini diharapkan mampu melawan sel kanker yang ada di tubuh. 


    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA | TABLOIDBINTANG | SCIENCEDAILY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bagi-bagi Jatah Menteri di Komposisi Kabinet Jokowi

    Partai koalisi pemerintah membahas komposisi kabinet Jokowi - Ma'ruf. Berikut gambaran komposisi kabinet berdasarkan partai pendukung pasangan itu.