Risiko Kesehatan Rokok Elektrik, Asma hingga Kerusakan Otak

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi rokok elektrik. Christopher Furlong/Getty Images

    Ilustrasi rokok elektrik. Christopher Furlong/Getty Images

    TEMPO.CO, JakartaRokok elektrik menjadi tren di kalangan anak muda karena dianggap lebih sehat dibandingkan rokok konvensional. Berbeda dengan rokok konvesnional yang berisi tembakau, rokok elektrik berisi cairan yang mengandung nikotin.

    Baca juga: Vape vs Rokok Konvensional, Mana yang Lebih Berbahaya?

    Para ahli telah banyak melakukan studi mengenai dampak rokok ini. Dibandingkan dengan rokok tembakau. Mereka setuju bahwa rokok elektrik mengandung zat berbahaya yang lebih sedikit karena tidak mengandung tar dan karbon monoksida.

    Tapi bukan berarti rokok jenis ini tidak berbahaya. Meski disebut membantu orang berhenti merokok, berbagai penelitian telah menunjukkan risiko rokok ini serupa atau bahkan meningkat, apalagi penggunanya semakin banyak di kalangan anak muda. Dikutip dari Boldsky, berikut lima risiko kesehatan rokok elektrik.

    1. Kerusakan otak

    Klaim bahwa rokok elektrik lebih aman nyatanya perlu ditelaah lagi. Rokok ini mengandung nikotin yang bersifat adiktif dan dapat merusak fungsi otak remaja. Dampak kerusakan otak ini adalah masalah perilaku dan kecanduan nikotin. Jika sudah kecanduan nikotin, sulit bagi otak untuk menghentikannya.

    2. Masalah paru-paru

    Rokok elektrik mengandung sejumlah bahan kimia berbahaya seperti asetaldehida, akrolein, dan formaldehida. Zat-zat tersebut bertanggung jawab untuk merusak fungsi paru-paru Anda. Zat kimia ini dapat menyebabkan penyakit paru-paru seperti cedera paru akut dan penyakit paru obstruktif kronis.

    3. Asma

    Menghirup asap, meskipun dari rokok elektrik, dapat memicu asma. Acrolein, zat kimia yang ditemukan dalam e-rokok, adalah herbisida yang banyak digunakan untuk membunuh gulma. Zat ini menjadi salah satu berkembangnya asma pada pengguna rokok elektrik.

    4. Kerusakan DNA

    Sejumlah penelitian membuktikan bahwa rokok elektrik berpotensi merusak DNA. Uap dari rokok elektrik, meski yang diklaim tidak mengandung nikotin, mengandung banyak zat kimia tambahan.

    Baca juga: Mau Nyaman Nonton Bola, Bebaskan Stadion dari Asap Rokok

    5. Menyebarkan infeksi

    Perangkat rokok elektrik cenderung dapat digunakan bersama-sama. Hal ini meningkatkan risiko penyakit menular.

    Beberapa risiko lain yang disebabkan kebiasaan merokok elektrik adalah kanker perut, kanker kandung kemih, kanker esofagus, penyakit jantung, dan masalah pernapasan seperti emfisema.

    Jadi, rokok elektrik mungkin membantu orang yang ingin berhenti merokok konvensional. Tapi untuk yang belum pernah merokok, sebaiknya jangan mencoba-coba mengonsumsi rokok ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.