Butuh Asisten Rumah Tangga? Ini Biaya yang Harus Dikeluarkan

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah Pembantu Rumah Tangga (PRT) pengganti atau infal saat menunggu di tempat penyalur Bu Gito, kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu, 29 Mei 2019. Permintaan pembantu infal pada Lebaran tahun ini mengalami peningkatan sebesar 10% dibanding tahun lalu.  TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sejumlah Pembantu Rumah Tangga (PRT) pengganti atau infal saat menunggu di tempat penyalur Bu Gito, kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu, 29 Mei 2019. Permintaan pembantu infal pada Lebaran tahun ini mengalami peningkatan sebesar 10% dibanding tahun lalu. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Asisten rumah tangga atau ART selalu menjadi persoalan keluarga yang hidup di perkotaan pasca-Lebaran. Tak heran, biaya untuk mempekerjakan ART melalui lembaga penyalur kerja atau LPK bisa mengejutkan. Di Jakarta, untuk mendapatkan ART dengan jaminan bertahan dalam jangka waktu 3 hingga 12 bulan harus mengocek biaya Rp 4 juta hingga Rp 9 juta. 

    Baca juga: Ratu Elizabeth II Buka Lowongan Asisten Rumah Tangga, Berminat?

    Salah satu ibu rumah tangga yang menggunakan jasa LPK, Dian Harwinda, mengatakan bahwa biaya mendatangkan ART meningkat setiap tahun. Pada 2017 hingga 2018, membayar Rp 2,6 juta untuk seorang ART dengan jaminan bekerja selama enam bulan. Tapi biaya itu melonjak di 2019 ini. 

    "Sekarang (jaminan bekerja) tiga bulan sudah Rp 4 juta, enam bulan Rp 6,5 juta dan satu tahun Rp 9 juta. Kalau begini kan lebih baik (uangnya) diinvestasikan,” kata dia kepada TEMPO.CO Jumat, 14 Juni 2019. 

    Ia mengakui dengan membayar senilai tersebut memang membuat lebih mudah dan nyaman. Apalagi, ada perjanjian yang dibuat antara pengguna jasa dengan pihak LPK, misalnya bayar untuk 3 bulan. "Dalam artian segala gerak gerik pembantu menjadi tanggung jawab LPK,” kata wanita berusia 34 tahun ini.

    Manajer dan pelatih ART dari situs Pembantu.com, Julia Onye, mengatakan bahwa angka tersebut muncul karena berbagai konsiderasi. Yang pertama ialah tingginya kebutuhan keluarga untuk memiliki ART. Sayangnya, mencarinya untuk bekerja sungguh-sungguh itu tidak mudah.

    “Sekarang sudah mulai banyak dari ibu yang memilih bersantai di rumah. Kalaupun ada yang mau bekerja, biasanya bermalas-malasan. Sehingga berbagai LPK yang berada di bawah naungan kami harus berusaha keras memenuhi kebutuhan pasar. Hal ini yang tidak mereka lihat karena klien hanya terima bersih,” katanya saat dihubungi TEMPO.CO pada Jumat, 14 Juni 2019.

    Selain itu, kompetensi ART juga menjadi pertimbangan. Julia mengatakan, sebelum bekerja, ART dilatih dengan sistem dan kurikulum pembelajaran khusus agar meningkatkan kualitas saat telah bersama klien.

    Baca juga: Syahrini Manjakan Asisten Rumah Tangga, Bukan Cuma Soal Uang

    “Kalau mengambil ART dari desa, jelas kemampuan mereka tidak setara dengan standar kami. Sejak tahun 2017 kami sudah mengajarkan calon ART dengan ilmu yang sesuai dengan imbauan Organisasi Perburuhan Internasional. Jadi bisa dipastikan outcome-nya baik,” katanya.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bagi-bagi Jatah Menteri di Komposisi Kabinet Jokowi

    Partai koalisi pemerintah membahas komposisi kabinet Jokowi - Ma'ruf. Berikut gambaran komposisi kabinet berdasarkan partai pendukung pasangan itu.