Perilaku Belanja Milenial, Ramah Lingkungan tanpa Kantong Plastik

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi belanja online / e-commerce. freepik.com

    Ilustrasi belanja online / e-commerce. freepik.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Generasi milenial ternyata memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Hal itu terlihat dari kebiasaan sehari-hari mereka, salah satunya perilaku mereka saat berbelanja. Banyak milenial yang kini menolak menggunakan kantong plastik untuk membawa belanjaan mereka.

    Baca juga: Tak Pandai Pilih Buah yang Bagus, Alice Norin PIlih Cara Ini

    Co Founder dan Chief Technology Officer Happy Fresh Fajar A. Budiprasetyo mengatakan, perusahaannya pernah melakukan jajak pendapat secara online dan offline (bertemu langsung dengan pelanggan). “Berdasarkan market research yang kami lakukan, milenial care sama lingkungan. Contohnya mereka nggak mau pakai kantong plastik,” kata dia saat meluncurkan tampilan baru Happy Fresh di Jakarta, Rabu, 3 Juli 2019.

    Berdasarkan riset itu, kini Happy Fresh tidak menggunakan kantong plastik. Mereka memilih kantong yang bisa digunakan kembali atau kardus.

    Selain punya kepedulian yang tinggi pada lingkungan, mereka juga tidak pandai dan enggan memilih-milih produk segar tetapi ingin mendapatkan produk dengan kualitas baik, bahkan banyak yang mencari produk organik demi alasan kesehatan. “Mereka punya health conscious yang tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Makanya tren produk organik cukup besar,” kata Fajar.

    Belanja online menjadi pilihan milenial karena dapat menghemat waktu dan tenaga. Selain itu, penyedia jasa belanja online juga berani menjamin produk segar yang dibeli konsumen memiliki kualitas baik.

    Baca juga: 5 Tips Sukses Belanja Pakaian Online

    Selain Happy Fresh, beberapa situs belanja produk segar mulai diminati, sebut saja Sayur Box yang melayani pembelian produk buah dan sayuran dari produsen, dan Honestbee.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.