Pro Kontra Aborsi di Amerika, Bagaimana dengan di Indonesia?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi aborsi. PEDRO ARMESTRE/AFP/Getty Images

    Ilustrasi aborsi. PEDRO ARMESTRE/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Di Amerika Serikat kini sedang marak pembahasan mengenai pro dan kontra aborsi terkait dengan undang-undang anti-aborsi. Presiden Donald Trump mengaku sangat pro kehidupan dengan tiga pengecualian yang memperbolehkan aborsi, yaitu pemerkosaan, inses, dan melindungi nyawa ibu.  

    Beberapa negara bagian sudah mengesahkan anti-aborsi, termasuk Alabama yang melarang hampir sepenuhnya. Larangan ini menimbulkan protes dari banyak pihak. 

    Baca juga: Gubernur Alabama Sahkan UU Larangan Aborsi yang Pertama di AS

    Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Dokter kandungan Ardiansjah Dara mengatakan bahwa Indonesia secara hukum tidak memperbolehkan aborsi. Meski demikian, ada kondisi tertentu yang diperbolehkan.

    “Kalau dari segi hukum undang-undang, aborsi secara bebas memang tidak boleh. Kecuali ada kasus,” katanya saat dihubungi TEMPO.CO pada Senin, 8 Juli 2019.

    Kasus-kasus seperti apakah yang dimaksudkan Ardiansjah itu? Ia memaparkan dua hal utama, yakni ada permasalahan dengan kesehatan sang ibu, serta kasus pemerkosaan. Dari segi permasalahan kesehatan, ia mengatakan bahwa pada kondisi kesehatan tertentu, ahli kesehatan tentu akan menyerahkan pilihan untuk menyelamatkan ibu atau calon bayi.

    “Jadi misalnya ibu punya penyakit jantung atau kanker, ini akan membahayakan keduanya. Sehingga harus pilihan salah satu dan kalau mau memilih ibu, calon bayi diperbolehkan untuk digugurkan,” katanya.

    Sedangkan untuk kasus pemerkosaan, melakukan pengguguran juga diperbolehkan lantaran ini akan menimbulkan trauma mendalam jika terus dipertahankan. Akhirnya, ini juga akan berpengaruh buruk pada kesehatan ibu maupun calon bayi.

    “Takutnya ketika bayi lahir, ibunya stres karena dulu hamil sebagai korban pelecehan. Kalau besar juga, sangat mungkin ibunya suka memukuli atau tidak mengurus anak karena trauma itu,” katanya.

    Imbauan dari Ardiansjah, apabila telah mengalami kedua hal ini dan memutuskan untuk melakukan aborsi, sebaiknya diterapkan sedini mungkin. Dalam artian, sebelum kehamilan menyentuh angka enam minggu. Selain itu, ia juga berpesan untuk melakukannya pada tenaga ahli saja.

    Baca juga: WHO: Tiap Tahun, 56 Juta Janin Digugurkan

    “Baiknya sebelum enam minggu dan dilakukan oleh orang yang memang ahli. Jangan sembarangan karena berhubungan dengan nyawa dan kesehatan. Jadi tidak main-main,” katanya.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kajian Ibu Kota Baru, Diklaim Memperkuat Kawasan Timur Indonesia

    Pemindahan ibu kota ke luar Jawa diklaim akan memperkuat kegiatan nasional dan kawasan Indonesia timur. Begini kajian ibu kajian ibu kota baru.