Kisah Fadly Sahab Bangun ZAP Clinic, Pernah Ditolak Investor

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fadly Sahab, CEO ZAP Clinic, dan karyawannya (Instagram @fadlys)

    Fadly Sahab, CEO ZAP Clinic, dan karyawannya (Instagram @fadlys)

    TEMPO.CO, Jakarta - Saat akan membuka usaha atau memulai suatu bisnis, tentu Anda membutuhkan modal yang tak sedikit. Sayangnya, tidak banyak investor yang percaya untuk memberikan bantuannya, terlebih jika usaha tersebut adalah usaha baru.

    Baca juga: Tren Perawatan Kecantikan dengan DNA Salmon, Apa Saja Manfaatnya?

    Tapi, tak ada investor bukan berarti niat usaha gagal. CEO klinik kecantikan ZAP, Fadly Sahab, misalnya. Ia mengaku memulai ZAP tanpa bantuan investor. Bagaimana caranya? 

    Kembali ke 2009, ketika ia memutuskan untuk keluar dari PT Surveyor Indonesia (Persero). Ide untuk memulai bisnis klinik kecantikan kemudian tercetus saat seorang teman berwarga negara Australia merasa kebingungan untuk waxing atau mencukur bulu di Indonesia.

    “Dulu saya kerja di BUMN. Tapi keluar dan memulai bisnis di 2009 karena kata teman, di luar sedang tren waxing. Saya jadi tertarik untuk coba karena di Indonesia enggak ada,” katanya saat ditemui pada acara ZAP Media Gathering di Jakarta pada Kamis, 11 Juli 2019.

    Saat itu, ia mengaku bahwa ia pernah mencoba untuk mengajukan bantuan kepada investor. Sayangnya, hal tersebut tidak membuahkan hasil. Akhirnya, ia menyisihkan sebagian hasil kerjanya hingga mendapatkan modal yang cukup. “Saya nabung sampai 50 juta karena cari investor susah. Tapi dari modal itulah saya mulai bisnis waxing,” katanya.

    Strategi dalam mengelola hasil pun diterapkan agar tetap berpegang dengan usaha tanpa investor itu. Ia mengatakan bahwa di awal masa merintisnya, Fadly hanya menggaji dirinya dengan angka 12,5 persen dari total penghasilan setiap bulannya. Sehingga, sebagian besar dari hasilnya dapat diputar kembali untuk membesarkan bisnis. “Ini hitung-hitungan sendiri saja. Hanya membatasi 12,5 persen. Sisanya semua diputar lagi,” katanya.

    Namun kini, karena penghasilan yang ia dapatnya cukup banyak, ia menaikkan upah untuk diri sendiri. Ia mematok angka Rp 100 juta rupiah bulan. “Dari dulu selalu punya target gaji 100 juta. Karena Alhamdulillah sekarang 12,5 persen selalu melebihi 100 juta, saya stick di 100 saja. Sisanya kembali untuk usaha,” katanya.

    Baca juga: Siap-siap Rp 50 Juta ke Klinik Kecantikan, Kulit Bisa Awet Muda

    Saat ditanya mengenai keinginan di masa mendatang untuk bekerja sama dengan investor, ia merasa bahwa hal tersebut belum terpikir olehnya. "Karena dari dulu sendiri, mungkin untuk saat ini belum terpikir. Tapi mungkin nanti akan. Saya sendiri tidak tahu," katanya.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.