Atasi Kebotakan dengan Terapi Plasma Darah, Mau Coba?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pria rambut tipis. Shutterstock

    Ilustrasi pria rambut tipis. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Terapi Platelet Rich Plasma atau PRP sedang heboh diperbincangkan publik. Pasalnya, terapi yang menggunakan plasma darah kaya trombosit ini dipercaya bisa mengatasi kebotakan melalui produk autolog dari tubuh sendiri. 

    Baca juga: Sering Mengenakan Topi Menyebabkan Kebotakan? Ini Kata Pakar

    Caranya, plasma darah yang mengandung konsentrasi platelet atau trombosit yang cukup tinggi akan diambil. Kemudian konsentrat itu  disuntikkan ke kepala guna menumbuhkan rambut. Dalam waktu kurang lebih dua bulan, rambut pun akan kembali tumbuh. 

    Dokter kulit dan kelamin Endi Novianto mengatakan, terapi PRP di setiap rumah sakit atau klinik umumnya menggunakan alat yang sama. Hanya saja, yang menentukan keberhasilannya adalah faktor-faktor pendukung, contohnya tenaga medis. Jadi, jika memutuskan melakukan terapi ini, perlu diperhatikan pengalaman dan latar belakang seperti apa yang dimiliki ahli.

    “Pertama kita lihat, siapa yang menangani. Kalau dia dokter atau tenaga medis bersertifikasi, tentu ini adalah hal yang benar untuk melakukan treatment PRP,” katanya di acara klinik ketampanan Men/o/logi dari Zap Clinic di Jakarta pada Kamis, 11 Juli 2019.

    Selanjutnya, pilih klinik atau rumah sakit yang telah memiliki standar operasional prosedur atau SOP dan izin untuk melakukan terapi ini. Sebab, tidak sedikit klinik yang menyediakan PRP tanpa lisensi.

    “Jangan tergiur dengan harga murah. Yang penting adalah kejelasan prosedur dari klinik atau rumah sakit mengenai terapi PRP agar mendapatkan hasil yang maksimal,” katanya.

    Terakhir, Endi menggarisbawahi pentingnya melihat hasil pengambilan darah untuk PRP. Ia mengatakan bahwa sebelum terapi, seseorang akan diambil darahnya untuk pengecekan di laboratorium. Apabila hasil laboratorium menunjukkan PRP dengan nilai yang sama atau bahkan lebih dari jumlah darah, bisa dipastikan bahwa terapi di tempat tersebut kurang direkomendasikan.

    Baca juga: Benarkah Pria Botak Rentan Terjangkit Kanker Prostat?

    “Jadi takaran PRP harusnya lebih rendah dibandingkan jumlah darah yang diambil. Calon pasien kadang suka terima jadi dan tidak memperhatikan ini. Padahal kalau PRP nilainya sama atau lebih tinggi, bisa jadi dicampur dengan yang lain sehingga bisa menimbulkan komplikasi kesehatan,” katanya.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.