Jangan Sembarangan Memuji Anak, Ini yang Dianjurkan dan Tidak

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. cdn.com

    Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. cdn.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pujian menjadi salah satu cara menghargai tindakan baik anak. Beberapa penelitian menunjukkan anak di bawah lima tahun atau balita yang mendapat pujian memiliki dorongan untuk bereksplorasi dan berperilaku baik.

    Tapi, pujian ternyata tidak bisa dilakukan sembarangan. Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani mengatakan, ada koridor yang harus diikuti orang tua agar pujian yang diberikan dapat membantu membentuk karakter anak yang sukses dan bahagia di kemudian hari.

    “Berikan pujian spesifik atas perilaku baik yang ia tunjukkan, bukan pada fisiknya,” kata Nina, sapaan Anna Surti, di acara Taman Prestasi Sahabat Generasi Maju SGM Eksplor di Senayan, Jakarta, Ahad, 21 Juli 2019.

    Menurut Nina, pujian dan setiap kata yang diungkapkan orang tua untuk anak akan masuk ke hati. Jika mendapat pujian atas perilakunya, ia semakin banyak melihat hal baik dalam dirinya.

    Ia mencontohkan, pujian dapat diberikan saat anak sudah bisa ke toilet sendiri atau bisa makan sendiri. “Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dari dirinya yang baik,” ujar Nina.

    Namun, ia tidak menganjurkan memuji anak karena fisik, misalnya, mengatakan bahwa ia adalah anak paling cantik. Cantik atau kelebihan fisik lainnya, menurut Nina cenderung tidak realistis. “Itu pujian yang berlebihan. Misalnya nanti dia ikut Miss Universe, lalu tidak lolos, khawatir itu menimbulkan konsep diri yang tidak tepat pada dia. Jadi berikan pujian pada perilaku yang ia tampilkan,” ujar Nina.

    Bukan hanya pujian, perilaku yang buruk pun perlu mendapat feedback berupa teguran. Menurut Nina, teguran akan membantu mengembangkan logika anak.

    Ia mencontohkan, ketika anak menumpahkan air di lantai, orang tua perlu memberi teguran dan konsekuensi atas perbuatannya. “Misalnya, ‘Duh, bunda nggak suka lantainya jadi licin karena kamu numpahin air. Ayo kamu ikut, kita ambil kain pel, kita pel biar kering.’ Jadi ada konsekuensi atas perbuatannya,” kata Nina.

    Kemampuan logikanya pun berkembang. Ia akan berpikir bahwa jika lantai basah harus dikeringkan agar tidak membuat orang terpeleset. “Feedback yang diberikan dengan tepat akan membentuk dirinya,” Nina menegaskan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.