Selasa, 17 September 2019

5 Kesalahan Umum saat Mengajarkan Anak Menyikat Gigi

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi sikat gigi. boldsky.com

    Ilustrasi sikat gigi. boldsky.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Membiasakan anak menyikat gigi bisa dimulai sejak gigi pertamanya muncul. Tapi mengajarkan ia menyikat giginya sendiri menggunakan pasta gigi sebaiknya dilakukan ketika anak sudah bisa meludah. Kebiasaan menyikat gigi sejak kecil penting untuk menjaga kesehatan gigi mereka hingga dewasa.

    Dokter spesialis gigi anak Eva Fauziah dari Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia atau IDGAI mengatakan, ada beberapa kesalahan yang kerap dilakukan orang tua saat mengajarkan kebiasaan menyikat gigi pada anak. Pertama adalah menggosok terlalu kencang dengan arah yang salah. Gerakan menyikat gigi yang benar adalah dari gusi ke gigi atau merah putih. Merah untuk gusi dan putih untuk gigi.

    “Kalau terlalu kencang dengan arah sebaliknya, akan membuat gusi turun dan bagian akar gigi terbuka. Ini membuat gigi ngilu dan sensitif,” kata Eva saat Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut & Cara Mencuci Tangan yang Baik dan Benar kepada siswa taman kanak-kanak di Depok, Selasa, 23 Juli 2019. Penyuluhan ini dilakukan kerja sama antara IDGAI dengan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

    Kedua, sikat gigi digunakan bergantian. Ini biasanya terjadi pada anak yang memiliki saudara dengan rentang usia yang tidak terlalu jauh. Sering kali orang tua secara sengaja atau tidak memberi sikat gigi yang biasa digunakan adiknya untuk kakak, atau sebaliknya.

    “Walaupun kakak-adik dan masih kecil, sikat gigi nggak boleh gantian. Sebab, sikat gigi bisa menjadi media pertukaran kuman,” ujar Ketua Departemen Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia itu.

    Kesalahan ketiga adalah jarang mengganti sikat gigi. Perlu diketahui, anak-anak pun perlu mengganti sikat gigi setiap dua atau tiga bulan sekali, seperti orang dewasa. Sikat gigi yang tidak diganti dalam waktu lama biasanya tidak lagi efektif karena bulunya sudah mekar atau jarang-jarang. Sikat gigi ini, kata Eva, tak mampu membersihkan gigi dengan baik.

    Keempat, memberi anak sikat gigi dewasa. Ukuran mulut dan gigi anak dengan orang dewasa tentu saja berbeda. Ini artinya, mereka juga membutuhkan sikat gigi yang lebih kecil dan lembut.

    Kelima, memperkenalkan pasta gigi terlalu dini. Eva mengatakan bahwa anak sebaiknya diperkenalkan odol atau pasta gigi ketika sudah bisa meludah agar tidak tertelan. Ketika anak berusia dua atau tiga tahun sebaiknya cukup menggunakan air hangat. Selain itu, pasta gigi tidak perlu terlalu banyak, cukup seukuran kacang polong.

    Satu lagi yang sering terjadi adalah melewatkan gigi bagian belakang atau geraham. Bagian ini memang sulit dijangkau, itu sebabnya anak-anak pun sering kali malas menyikatnya. Padahal, bagian itu sering berlubang akibat makanan yang sering tidak dibersihkan. Itu sebabnya, Eva menyarankan orang tua selalu mendampingi dan mengecek kembali gigi anak setelah disikat. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Google Doodle, Memperingati Chrisye Pelantun Lilin-Lilin Kecil

    Jika Anda sempat membuka mesin pencari Google pada 16 September 2019, di halaman utama muncul gambar seorang pria memetik gitar. Pria itu Chrisye.