7 Efek Kesehatan Penyalahgunaan Ganja, dari Otak hingga Paru-paru

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Ganja. Getty Images

    Ilustrasi Ganja. Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Pekan ini media diramaikan dengan pemberitaan aktor Jefri Nichol yang ditangkap karena memiliki ganja. Narkoba yang berasal dari tanaman Cannabis sativa ini mengandung bahan aktif di antaranya tetrahydrocannabinol (THC) yang memabukkan, membuatnya digolongkan sebagai obat psikotropika.

    Banyak orang menggunakan ganja untuk membuat mereka merasa santai atau sangat bahagia (high). Ganja sering kali diisap seperti rokok pipa atau rokok lintingan. Selain itu, ada juga yang menggunakan ganja untuk campuran bahan makanan atau diseduh menjadi teh.

    Beberapa daerah di Indonesia terkenal menggunakan sedikit ganja sebagai bumbu tambahan pada masakan tradisional mereka. Sementara itu, di sejumlah negara bagian di AS, ganja diperbolehkan dikonsumsi untuk kebutuhan medis.

    Lalu, apa bahaya ganja? Dokter Kevin Adrian dari Alodokter dalam keterangan pers, Sabtu, menjelaskan ganja dalam dosis berlebih berdampak buruk bagi tubuh. Apa saja efeknya?

    1. Paru-paru
    Menurut beberapa penelitian, kandungan tar pada ganja hampir tiga kali lipat lebih tinggi dari tembakau. Selain itu, asap ganja juga diduga memiliki kandungan zat penyebab kanker 70 persen lebih banyak dari asap rokok tembakau.

    Oleh karena itu, risiko Anda terkena kanker paru-paru pun semakin tinggi, terutama jika pemakaian ganja dalam waktu lama, meski hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Jika Anda merokok dengan campuran ganja dan tembakau, risiko penyakit paru-paru akan lebih tinggi.

    2. Otak
    Terlalu lama menggunakan ganja dapat menyebabkan gangguan pada kemampuan berpikir, kehilangan memori, dan menghambat fungsi otak. Penelitian dengan memanfaatkan pemindaian MRI otak menunjukkan adanya perubahan struktur di bagian tertentu pada otak pengguna ganja dalam jangka panjang. Perubahan ini juga memengaruhi kinerja otak.

    3. Kesehatan mental
    Biasa mengisap ganja diduga memperburuk atau meningkatkan risiko kambuhnya gejala psikotik (psikosis) pada penderita skizofrenia.

    Selain itu, efek ganja juga bisa menimbulkan halusinasi (melihat hal-hal yang tidak benar-benar ada), delusi (percaya dan meyakini hal-hal yang tidak benar), rasa cemas, dan serangan panik.

    Penggunaan ganja dalam jangka panjang juga memungkinkan seseorang untuk terkena gejala putus obat, yang meliputi insomnia, perubahan mood, dan penurunan nafsu makan.

    Risiko ketergantungan ganja juga bisa terjadi. Risiko terkena psikosis akan lebih tinggi jika Anda mulai menggunakan ganja di usia remaja, atau memiliki riwayat penyakit mental dalam keluarga.

    4. Sistem peredaran darah
    Beberapa saat setelah mengisap ganja, detak jantung Anda akan bertambah 20-50 denyut per menit.

    Efek ganja ini berlangsung sampai tiga jam. Bagi penderita penyakit jantung, detak jantung yang lebih cepat ini bisa meningkatkan risiko serangan jantung.

    Selain itu, ganja juga dapat menyebabkan naiknya tekanan darah dalam jangka pendek, risiko perdarahan, dan membuat mata menjadi merah karena pembuluh darah diperlebar.

    5. Sistem pencernaan
    Mengisap ganja dapat menyebabkan rasa menyengat atau sensasi terbakar (rasa perih) di mulut dan tenggorokan.

    Untuk ganja yang dikonsumsi secara ditelan (oral) makan dapat menimbulkan mual dan muntah. Namun pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi, efek ganja justru terlihat dapat mengobati gejala mual dan muntah.

    6. Sistem kekebalan tubuh
    Ganja bisa membuat sistem kekebalan tubuh melemah. Penelitian juga menunjukkan adanya kaitan antara penggunaan ganja dengan meningkatknya risiko terkena penyakit yang dapat melemahkan kekebalan tubuh, seperti HIV/AIDS. Akibatnya, tubuh menjadi semakin sulit melawan infeksi.

    7. Kehamilan dan menyusui
    Mengisap ganja selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan otak janin, memperlambat pertumbuhan janin, menyebabkan kecacatan dan gangguan pada janin, serta leukemia.

    Selain itu, mencampur ganja dan tembakau juga diduga meningkatkan risiko bayi terlahir prematur atau terlahir dengan berat badan rendah.

    Ibu yang mengonsumsi ganja ketika menyusui dapat membuat zat kimia dalam mariyuana yang disebut tetrahydrocannabinol (THC) masuk ke dalam ASI. Akibatnya, pertumbuhan bayi akan terhambat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.