Bacakan Buku Bisa Buat Anak Bahagia?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak-anak mendengarkan Melania Trump, membacakan buku cerita dalam acara tahunan untuk memperingati Hari Raya Paskah di Gedung Putih, Washington, 2 April 2018. Setiap tahunnya Gedung Putih rutin menggelar perayaan Paskah dengan berbagai lomba untuk anak-anak. AP

    Sejumlah anak-anak mendengarkan Melania Trump, membacakan buku cerita dalam acara tahunan untuk memperingati Hari Raya Paskah di Gedung Putih, Washington, 2 April 2018. Setiap tahunnya Gedung Putih rutin menggelar perayaan Paskah dengan berbagai lomba untuk anak-anak. AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Membaca dapat diibaratkan membuka jendela dunia karena dengan membaca akan memperluas wawasan seseorang. Karena itu, kebiasaan membaca buku harus dimulai sejak usia dini. Pengenalan membaca buku diharapkan dimulai dari lingkup keluarga. Di sinilah pentingnya kontribusi orang tua yaitu membacakan buku anak sebagai bentuk pengasuhan untuk mengoptimalkan kemampuan berkoordinasi dan berbahasa sejak dini.

    Menyadari pentingnya hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat kembali melaksanakan Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Harris Iskandar mengatakan Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku mempunyai tujuan yang mulia yaitu melekatkan emosi bunda, ayah dan anak. "Kelekatan emosi orang tua dan anak akan memungkinkan jiwa anak tumbuh dengan sempurna serta mengenalkan kecintaan terhadap buku,” Kata Harris saat membuka acara Gernas Baku di PAUD KM 0 dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 28 Juli 2019.

    Harris mengatakan bila kegiatan membacakan buku dibiasakan, maka akan menjadi budaya dan menjadikan Indonesia lebih baik. "Orang membaca buku adalah orang yang bahagia. Kalau ingin membahagiakan anak, bacakan saja buku. Saya optimis sudah mulai banyak yang mengenal Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku). Artinya mereka sudah mengerti pentingnya itu, dan kita mendukung itu semua,” kata Harris.

    Harris menjelaskan bahwa pengasuhan anak harus berada di bawah orang tua, bukannya orang lain. Ia mengingatkan agar orang tua tidak menyerahkan pola pengasuhan kepada asisten rumah tangga atau pengasuh. "Ini harus orang tuanya langsung, baik ibunya maupun bapaknya. Kesempatan ini jangan disia-siakan karena anak umur 4 - 5 tahun, bahkan usia SD merupakan umur yang sangat baik sekali untuk menumbuh kembangkan karakter-karakter baik yang kita inginkan,” kata Harris.

    Menurut Harris, ketersediaan buku berkualitas juga tidak kalah penting. Kondisi geografis Indonesia kadang menyulitkan distribusi buku ke daerah terpencil.

    Harris sempat berbicara kepada perwakilan orang tua di daerah Jakarta terkait ketersediaan buku. Jakarta saat ini tidak mengalami kendala. Namun ia akan mengecek apakah daerah lain seperti Nusa Tenggara Barat dan Papua mengalami masalah ketersediaan buku. "Cuma kan belum tentu untuk di daerah luar Jawa ketersediaan buku-buku yang bagus itu banyak. Hal ini penting karena tidak semua buku bagus,” kata Harris.

    Selain meningkatkan kegiatan membacakan buku kepada anak-anak, Harris juga akan mengembalikan kesadaran orang tua mengenai bahaya gawai pada tumbuh kembang anak. “Jadi kita mulai membiasakan buku, nanti kita tidak 100 persen dimakan oleh gadget," kata Harris.

    Dengan adanya Germas Baku, Kemendikbud mengajak warga masyarakat, para mitra yang memiliki jaringan sampai ke tingkat desa, bersama-sama menggerakkan semua anggotanya untuk mulai membiasakan ini sehingga bukan sekedar menjadi imbauan tetapi disertai dengan strategi penyebarannya. “Saya kira kami hanya semacam orkestra saja, saling menyemangati. Kenapa kita lakukan di hari yang sama serentak? Supaya semangat saja bahwa kita itu bukan sendiri tapi 230 ribu lembaga PAUD seluruh Indonesia. Syukur kalau seluruh keluarga Indonesia yang jumlahnya mencapai 42 juta itu sudah mendengar tentang Gernas Baku dan terinspirasi untuk ikuti kebiasaan baru di rumahnya, terutama keluarga muda,” pungkas Harris.

    Rangkaian pelaksanaan Gernas Baku digelar sejak April 2019, dimulai dari pelaksanaan sosialisasi dan seminar. Selanjutnya, pada Mei 2019, para orang tua diajak untuk memberikan donasi buku dan menghadirkan pojok baca di rumah dan sekolah. Selain itu, juga diselenggarakan kelas parenting untuk orang tua di berbagai daerah.

    Puncak acara Gernas Baku dihadiri oleh sejumlah pejabat di lingkungan Kemendikbud dan para mitra serta undangan. Anak-anak PAUD KM 0 beserta orang tua mereka juga turut memeriahkan acara ini. Dalam acara ini juga dilakukan konferensi jarak jauh (tele conference) serentak di 3 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Kegiatan ini diselenggarakan seiring dengan Festival Literasi Sekolah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.