Tips Mudah agar Air Dalam Termos Panas Lebih Lama

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi air hangat. shutterstock.com

    Ilustrasi air hangat. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak orang tentu sudah tidak asing lagi dengan penggunaan termos. Berbentuk botol dengan bahan besi stainless, termos berfungsi untuk menjaga agar air tetap pada suhu dan udara yang panas.

    Meski demikian, rupanya ada berbagai trik mudah yang dapat diterapkan agar ketahanannya bisa lebih lama dari waktu normal. Dalam acara media gathering bersama Thermos, manajer pemasaran Adriani Melissa pun membagikan beberapa tips mudahnya.

    Pertama, ini ditujukan dari segi intensitas penggunaan. Menurut Andriani, air akan bertahan lebih lama pada suhu yang panas jika tidak terlalu sering dibuka dan tutup sebab berpengaruh pada kontaminasi udara di dalam dan di luar botol.

    “Misalnya menyimpan air panas untuk menyeduh teh. Kalau bisa, nyeduhnya sekaligus untuk satu rumah, jangan untuk diri sendiri saja karena nanti suhunya akan berubah, apalagi kalau dibuka dengan waktu yang lama,” katanya di Jakarta pada 6 Agustus 2019.

    Selanjutnya, untuk menjaga agar cairan di dalam botol tahan lebih lama dengan memasukkan air dengan suhu yang tinggi, bukan hangat atau panas, namun usahakan mendidih.

    “Kalau mendidih, dia otomatis akan lebih tahan lama karena melewati proses jadi panas dulu, kemudian hangat baru dingin,” katanya.

    Yang terakhir, Andriani menyarankan agar mengisi botol dengan air dan tidak terlalu penuh, apalagi sampai ke tutup botol. Menurutnya, hal ini akan merusak permukaan atap yang padahal berfungsi untuk menjaga suhu. “Kalau tutup termos pecah, suhu di dalam tidak akan terjaga dengan baik sehingga mudah dingin. Jadi jangan sampai ini terjadi,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.