Alasan Perlunya IVUS sebelum Kateterisasi Jantung

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi serangan jantung (pixabay.com)

    Ilustrasi serangan jantung (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kateterisasi adalah suatu tindakan pemasangan ring atau cincin pada pembuluh darah. Umumnya, ini dilakukan saat seseorang mengalami penyempitan atau penyumbatan pada bagian penyambung organ tubuh lain dengan jantung.

    Buat yang mengalami masalah jantung dan akan melakukan kateterisasi, spesialis jantung Hengkie F. Lasanudin memberikan imbauan, terutama berhubungan dengan perlunya melakukan IVUS atau intravascular ultrasound.

    “Menurut saya, IVUS ini wajib dilakukan karena untuk keuntungan dan kebaikan pasien juga,” katanya.

    IVUS merupakan peralatan terbaru yang berguna untuk mengetahui struktur anatomi pembuluh darah ke jantung secara lebih jelas. Mengapa diimbau? Sebab, yang pertama, dengan demikian bisa memberitahu secara akurat terkait ukuran diameter dan panjang pembuluh darah. Ini penting untuk menentukan ukuran ring yang pas bagi pasien.

    “Karena kalau ring dipasang terlalu besar, dia bisa menyebabkan pembuluh darah pecah. Kalau kekecilan, ia tidak bekerja sesuai fungsi di mana penyempitan sangat mungkin terjadi lagi setelah kateter,” katanya.

    Selanjutnya, dengan kecanggihan IVUS, Hengkie juga mengatakan bahwa alat tersebut dapat mengidentifikasi pengapuran yang terjadi di dinding pembuluh darah, khususnya bagi mereka yang merupakan pasien jantung koroner. Dengan demikian, ahli pun bisa mengikisnya agar pemasangan ring menjadi lebih baik.

    “Kalau ketahuan ada pengapuran, kita bisa bersihkan karena kalau ring dipasang pada keadaan pembuluh darah yang mengalami pengapuran, ia tidak akan efektif menempel pada pembuluh darah. Nanti malah membuahkan masalah baru setelah dipasang,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.