Jangan Umbar Panggilan Mesra pada Rekan Kerja, Ini Akibatnya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi selingkuh. Shutterstock

    Ilustrasi selingkuh. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Jangan biasakan memanggil rekan kerja dengan sapaan mesra. Seksolog dokter Boyke Dian Nugraha menyebutkan sebaiknya berhati-hati dengan kebiasaan memanggil rekan kerja dengan panggilan mesra karena bisa menjadi pintu masuk perselingkuhan.

    "Ke teman seperti panggilan cin, say, beb, sebagian orang memang sudah biasa memanggil atau menulis di aplikasi messenger, apalagi sudah akrab kerja satu kantor. Misalnya 'Cin, tungguin dong' atau 'Mau makan di mana'," kata Boyke.

    Tapi lama-lama, kebiasaan memanggil rekan kerja dengan panggilan tersebut bisa berubah menjadi "perselingkuhan kering".

    "Perselingkuhan kering itu perselingkuhan menggunakan kata-kata mesra berkomunikasi sehari-hari dan juga di aplikasi perpesanan," katanya.

    Sementara, perselingkuhan kering ini terjadi ketika salah satu pasangan suami istri mengalami permasalahan ketidakharmonisan dalam rumah tangga dan berujung curhat kepada rekan kerja.

    "Ketika salah satu mengalami permasalahan seks di rumahnya, atau kadang orang yang bekerja membawa permasalahan ke rumah, misalnya capek atau kesal, dan akhirnya curhat dengan rekan kerja, dia lagi ribut sama pasangan, ini lama-lama menjurus pada perselingkuhan basah," ucapnya.

    Perselingkuhan basah yaitu perselingkuhan yang dilakukan dengan cara kencan bertemu langsung, jalan-jalan, mengobrol berdua, atau sampai melakukan hubungan seks dengan pasangan selain suami atau istri. Menurut penelitian Boyke, sebanyak 20-30 persen perselingkuhan kering akhirnya berujung pada perselingkuhan basah.

    "Mereka mengatakan, sebenarnya kita awalnya tidak ada niat kok dok buat selingkuh, paling banyak loh begitu mengatakan, ini gara-garanya cara ngobrol dengan teman kantor," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.