6 Penyebab Karyawan Teladan Memilih Keluar

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi karyawan marah/jengkel. Shutterstock

    Ilustrasi karyawan marah/jengkel. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Kehilangan karyawan teladan merupakan hal buruk bagi perusahaan. Untuk menggantinya, perlu berbagai tahap, seperti pencarian karyawan baru dan pelatihan. Belum lagi, karyawan pengganti tersebut belum tentu sebaik karyawan sebelumnya.

    Untuk menghindari terjadinya hal tersebut, simak hal-hal yang dapat “mengusir” karyawan dari pekerjaannya, dilansir dari INC.

    #Stagnasi
    Tidak ada karyawan mana pun yang akan bertahan pada pekerjaan ketika mengetahui bahwa mereka akan tetap melakukan hal yang sama selama 20 hingga 40 tahun ke depan. Semua orang mau berkembang dan maju dalam kehidupan profesional. Ketika tahu tidak ada kesempatan untuk maju, mereka harus mencarinya di tempat lain. Dalam keadaan yang stagnan tersebut, mereka juga cenderung merasa bosan dan tidak bahagia, sehingga performa kerja akan terancam memburuk.

    #Bekerja terlalu berat
    Stres berkepanjangan dan perasaan terbebani karena pekerjaan akan membuat karyawan memilih untuk keluar. Kadang, justru hal ini terjadi pada karyawan paling teladan dan berkomitmen, yang biasanya paling dipercaya atasan. Karena kinerjanya yang baik, mereka cenderung dibebani dengan pekerjaan yang lebih banyak dan berat. Apabila terus menerus dibebani pekerjaan tanpa penghargaan, seperti kenaikan gaji atau jabatan, maka mereka akan merasa dimanfaatkan seenaknya.

    #Masa depan suram
    Tidak ada yang ingin bekerja di suatu perusahaan yang memiliki visi dan misi yang besar, tetapi nyatanya tidak akan berkembang. Hanya bualan, membuat karyawannya merasa tidak mau menghabiskan ilmu dan bakat untuk mendukung sesuatu yang belum jelas masa depannya.

    Ilustrasi keluar kerja atau resign. shutterstock.com

    #Kurang penghargaan
    Bahkan orang paling altruistik pun akan menginginkan suatu penghargaan terhadap pekerjaan mereka. Pamrih adalah sifat alami setiap manusia. Ketika perusahaan gagal menghargai pekerjaan, mereka akan merasa motivasinya dibunuh. Penghargaan tidak selalu berbentuk gaji atau bonus tetapi sebuah ucapan sederhana sebagai bentuk terima kasih atas usaha mereka akan membangkitkan semangat untuk bekerja lebih baik.

    #Kurang kepercayaan
    Karyawan memiliki kemampuan untuk menilai sebuah perusahaan dari rasa percaya kepada atasan. Apabila mengetahui ada kecurangan perusahaan terhadap klien atau berperilaku buruk terhadap vendor, maka bahkan karyawan paling teladan pun akan meninggalkan perusahaan tersebut.

    #Kesenjangan tinggi antara atasan dan bawahan
    Setiap perusahaan memang membutuhkan pemimpin, tetapi adanya sikap mengontrol terus menerus kepada bawahan akan membuat mereka kabur. Ketika pekerja diminta untuk terus bekerja tanpa diberi kepercayaan untuk menyumbang ide dan membuat keputusan, mereka akan merasa tidak bahagia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19

    Jaga kesehatan mental saat pandemi Covid-19 dengan panduan langsung dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).