Minggu, 15 September 2019

Indonesia Hadirkan 300 Buku di Beijing International Book Fair

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi lemari buku. brianwhitecarpentry.co.uk

    Ilustrasi lemari buku. brianwhitecarpentry.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Komite Buku Nasional (KBN) kembali membawa industri perbukuan Indonesia di pameran buku terbesar di Asia, Beijing International Book Fair 2019 (BIBF), yang tahun ini berlangsung di China International Exhibition Center pada 21-25 Agustus 2019. Keikutsertaan ini menjadi tahun keempat bagi organisasi perbukuan Indonesia ikut pada pameran buku tahunan ini.

    Atas dukungan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), tahun ini terdapat lima penerbit yang mendapatkan travel grant untuk mengikuti BIBF 2019. Kelima penerbit itu adalah Gramedia Publishers, Mizan Group, Kanisius, Pustaka Obor, dan Litara Foundation. Selain itu hadir pula Borobudur Agency, Literasia Agency serta Penerbit Kesaint Blanc.

    Yani Kurniawan sebagai ketua delegasi Indonesia dari KBN mengatakan timnya membawa lebih dari 300 judul buku dan enam penerbit serta dua literary agent yang hadir tahun ini. "Diharapkan akan lebih banyak buku Indonesia yang bisa terjual rights-nya," kata Yani dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 21 Agustus 2019. Sebelumnya pada penyelenggaraan BIBF tahun lalu, Indonesia berhasil menjual 20 rights buku ke penerbit China.

    Dua hari sebelum pembukaan Beijing International Book Fair 2019, KBN sebagai delegasi Indonesia di BIBF menghadiri China Book International Foreign Cunsultants Seminar di Beijing international Hotel, pada 19 Agustus 2019. Acara ini dihadiri perwakilan lebih dari 30 negara. KBN diwakili oleh Anton Kurnia, Koordinator Translation Funding Program. Pertemuan dan seminar antar penerbit internasional ini bertujuan membangun kerja sama lebih luas dan saling pengertian antara penerbit di berbagai negara.

    Yaya Sutarya selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Beijing menyatakan bahwa keikutsertaan Indonesia sangat baik sebagai bagian dari diplomasi budaya melalui buku. "Kami berharap kegiatan ini bisa dilanjutkan setiap tahun,” kata Yaya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.