Minggu, 15 September 2019

Mengintip Kompetisi Barista di Kebun Kopi

Reporter:
Editor:

Praga Utama

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kebun kopi Malabar, Pengalengan, Bandung kini telah menjadi tempat wisata tur ke kebun yang berdiri pada tahun lalu dengan bendera Malabar Mountain Coffee. TEMPO/Hindrawan

    Kebun kopi Malabar, Pengalengan, Bandung kini telah menjadi tempat wisata tur ke kebun yang berdiri pada tahun lalu dengan bendera Malabar Mountain Coffee. TEMPO/Hindrawan

    TEMPO.CO, Pangalengan - Ada yang unik dengan kompetisi barista yang satu ini. Jika biasanya lomba keahlian para penyeduh kopi ini digelar di kafe, mall, atau berbarengan dengan acara ekshibisi kopi, maka kompetisi barista Malabar Mountain Brewers Championship (MMBC) 2019, digelar langsung di pusat pengolahan pascapanen biji kopi.

    MMBC 2019 dihelat oleh PT. Sinar Mayang Lestari, perusahaan perekebunan, pengolahan, dan pemasaran kopi, serta pemilik merk Malabar Mountain Coffee dan Malabar Mountain Cafe yang berlokasi di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Acara ini diadakan pada Jumat 23 Agustus 2019 hingga Minggu 25 Agustus 2019. Sebanyak 30 barista dari berbagai kedai dan kafe dari berbagai daerah di Indonesia beradu kebisaan di sana.

    Pemilik PT. Sinar Mayang Lestari, Slamet Prayogo menyatakan, pihaknya memang sengaja mengadakan lomba di lokasi pemrosesan kopi hasil panennya, yang terletak di Desa Margamulya, Pangalengan. "Tujuan utamanya adalah memperkenalkan kopi specialty (kopi Arabika dengan grade tertinggi) asal perkebunan kami di Gunung Malabar," katanya kepada Tempo saat pembukaan acara.

    Walau digelar di lokasi yang terbilang jauh dari pusat keramaian, namun lomba barista ini digelar dengan standar yang tinggi. Salah satu juri MMBC 2019 yang merupakan Q-Grader (ahli penilai kualitas kopi Arabika) dari Malabar Mountain Coffee, Ananta Prastowo menjelaskan pelaksana acara berupaya mengikuti standar kompetisi yang ditetapkan Indonesia Coffee Events (ICE). Hingga saat ini, ICE adalah kompetisi barista paling bergengsi di Tanah Air, jawara kompetisi ini otomatis mendapat tiket untuk bertanding di tingkat internasional.

    Ananta menjelaskan, beberapa standar yang diterapkan dalam MMBC 2019 antara lain: ukuran dan tinggi meja barista yang sesuai standar, akreditasi para juri, dan banyak lagi. "Standar tersebut juga mengikuti aturan yang ditetapkan World Coffee Events."

    Selain Ananta, ada sebelas juri lain yang mengawal MMBC 2019, yakni juri WBA Mira Yudhawati; juri World Brewers Coffee (WBrC) Cresentia Gisela, juri bersertifikat ICE Echi Mahardika, Juara IBrC West Region Monika Zendrato; juara 4 WBC 2019 Mikael Jasin; Juara IBC 2018 Muhammad Aga; dan Juara 5 IBC 2018 Isman Ramadhan.

    Slamet Prayogo menambahkan, dengan mengikuti standar nasional, diharapkan MMBC 2019 bisa menjadi jembatan bagi para barista profesional untuk menuju kompetisi tingkat nasional dan internasional.

    Kompetisi ini menggunakan sistem penyisihan throwdown, di mana setiap tiga peserta membuat kopi dengan teknik manual brewing dan pemenangnya langsung ditunjuk oleh tiga orang juri. Hasil seduhan yang ditunjuk minimal oleh dua orang juri lolos ke babak berikutnya. Di babak final peserta ditantang melakukan open service, atau membuat kopi sambil mempresentasikan teknik penyeduhan kepada dewan juri.

    Kompetisi MMBC tahun pertama ini dimenangkan oleh Simon Petrus Bane, barista 7 Coffee Roastery, Bogor dengan nilai 74,3. Simon mengungguli empat finalis lain, mereka adalah: Bagus Wihardana, Streamcoffee Roastery, Bandung (71.25); Riswan Muhammad Q, Gow Coffee, Bandung (63.68); Welly Umkaro, Kopi Kebon, Purwokerto (61.25); dan Oki Hadian, Road Dream Coffee, Pangalengan (40.9).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.