Bahaya Mematikan Konsumsi Garam Berlebihan

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi garam. Shutterstock

    Ilustrasi garam. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Makanan tanpa garam terasa hambar dan tidak enak. Karena itu, hidup sangat lekat dengan penggunaan garam sebagai penambah rasa. Menggunakan garam dapat membuat masakan apa pun terasa gurih dan nikmat karena garam memiliki kelebihan meningkatkan cita rasa dari suatu makanan atau pun minuman.

    Meski begitu, di balik rasanya yang nikmat, diam-diam garam memiliki dampak mematikan, mulai dari penyakit hipertensi yang kerap dikaitkan dengan garam, hingga kanker, menjadi dampak berbahaya dari konsumsi garam berlebih. Berikut beberapa penyakit yang dapat ditimbulkan jika mengonsumsi terlalu banyak garam, dilansir Boldsky.

    #Tekanan darah tinggi
    Ini adalah dampak konsumsi garam berlebihan yang paling umum. Garam mengandung natrium (NaCl), yang bermanfaat untuk menjaga regulasi volume dan tekanan darah, menjaga kontraksi otot, dan transmisi sel saraf, serta membantu keseimbangan air, asam, dan basa dalam tubuh. Namun, konsumsi garam berlebihan yang menyebabkan kandungan natrium banyak pula akan mengikat banyak air dan membuat volume darah meningkat. Volume darah yang tinggi dengan lebar pembuluh darah tetap akan mengakibatkan derasnya aliran darah sehingga tekanan darah menjadi semakin meningkat. Maka itu, semakin banyak mengonsumsi makanan asin, maka risiko mengidap hipertensi semakin tinggi pula.

    #Risiko penyakit kardiovaskular tinggi
    Terlalu banyak mengonsumsi sodium juga dapat berujung pada penyakit kardiovaskular, seperti jantung koroner, gagal jantung, dan stroke. Konsumsi garam secara berlebihan dapat melipatgandakan risiko terkena sederet penyakit tersebut. Ini merupakan salah satu dampak dari tingginya tekanan darah yang disebabkan oleh natrium dalam garam. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan orang dewasa untuk mengonsumsi garam dengan batas maksimal dua gram per hari.

    Ilustrasi menaburkan garam. shutterstock.com

    #Kanker
    Kanker adalah penyakit yang tergolong menakutkan dan mematikan. Garam disebut sebagai salah satu pemicu kanker, terutama kanker perut. Pengolahan makanan yang diasinkan disebut dapat menyebabkan peradangan pada bagian perut. Bagian yang meradang tersebut yang berisiko terkena kanker.

    #Penyakit ginjal
    Seperti dijelaskan sebelumnya, natrium pada garam bersifat mengikat air, yang akhirnya menyebabkan tingginya tekanan darah. Tingginya kadar natrium dalam aliran darah akan membebani ginjal dan mengurangi kemampuannya untuk membuang air. Hasilnya, tekanan darah menjadi tinggi karena cairan ekstra dan memberi tekanan berlebih pada pembuluh darah halus yang menuju ke ginjal. Semakin lama, tekanan berlebih tersebut dapat merusak ginjal dan menyebabkan penyakit yang dikenal sebagai gagal ginjal.

    #Osteoporosis
    Terlalu banyak mengonsumsi garam juga dapat mengakibatkan penyakit tulang, yaitu osteoporosis. Konsumsi garam berlebih akan meningkatkan kerja ginjal untuk mengeluarkan kalsium melalui urin. Ginjal yang kehilangan mineral kalsium dalam tubuh untuk dikeluarkan akan menggantinya dengan kalsium dari tulang. Lama kelamaan, massa tulang akan berkurang, sehingga tulang menjadi mudah keropos, atau osteoporosis.

    #Kemampuan kognitif menurun
    Jika sehari-hari mengonsumsi garam dengan jumlah tinggi, maka kemampuan otak akan sedikit berkurang. Uniknya, garam tidak mempengaruhi fungsi kognitif pada orang dewasa dan orang tua. Namun, kelebihan asupan garam akan menyebabkan menurunnya fungsi kognitif pada anak-anak sehingga ketika dewasa dan tua nanti kinerja kognitifnya akan terpengaruhi. Karena itu, dianjurkan untuk membatasi asupan garam, khususnya pada anak-anak, karena dapat menimbulkan efek jangka panjang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.