Kurang Gizi, Masalah Serius yang Masih Melanda Indonesia

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kurang gizi/kurus. Livestrong.com

    Ilustrasi kurang gizi/kurus. Livestrong.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Masalah kekurangan gizi masih menjadi salah satu isu penting yang dihadapi masyarakat Indonesia. Faktor kesehatan serta pemenuhan gizi seimbang menjadi kebutuhan dasar dan fundamental yang sepatutnya dipenuhi setiap orang. Sayangnya, saat ini masih kerap ditemukan berbagai permasalahan gizi yang melanda masyarakat di Tanah Air.

    Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia (PERGIZI PANGAN Indonesia) dan Frisian Flag Indonesia (FFI) meluncurkan Frisian Flag Kompleta, guna mendukung pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengatasi masalah tersebut.

    “Kami juga menginisiasi gerakan #IndonesiaSIAP (Sadar Gizi, Inisiatif, Aktif dan Peduli), sebagai bentuk gerakan kolektif dalam upaya mengatasi masalah kekurangan gizi melalui pemenuhan gizi berkualitas dan edukasi bagi keluarga Indonesia,” Andrew F Saputro, Corporate Affairs Director FFI, di Jakarta, 3 September 2019.

    Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi kurang gizi di Indonesia mencapai angka 17,7 persen. Pada ibu hamil, masalah anemia masih menjadi ancaman, yaitu 48,9 persen. Di samping itu, kekurangan energi, protein, vitamin, dan mineral juga masih menjadi masalah serius, yang tentunya dapat berdampak pada kualitas generasi bangsa.

    Padahal, memperbaiki gizi, mengurangi kelaparan dan kemiskinan, serta mencapai kehidupan yang sehat dan sejahtera, menjadi beberapa target penting dari Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), yang menjadi kesepakatan pembangunan global, termasuk Indonesia.

    Adapun masalah yang berkaitan dengan kekurangan gizi adalah stunting. Menurut Subandi, Deputi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, meskipun pemerintah telah menurunkan angka stunting dari 37,2 persen menjadi 30,8 persen, ia mengakui angka ini masih tergolong tinggi.

    “Di tahun 2024 kami ingin menurunkan stunting hingga mencapai 19 persen,” ujarnya.

    Hal ini juga dimasukkan ke dalam berbagai kebijakan dan regulasi pemerintah sebagai komitmen dalam percepatan perbaikan gizi di Indonesia, yang diantaranya adalah RPJMN 2020-2024, RKP 2020, WHA 2025, SDGs 2030, Perpres KSPG, Germas, Sun Global, dan juga Strategi Nasional 2018-2024.

    “Masalah kekurangan gizi masih menjadi salah satu isu penting yang dihadapi masyarakat Indonesia. Masalah ini bukan hanya berpengaruh pada kesehatan, tetapi juga memicu tantangan bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia, mengingat dampak jangka panjang masalah gizi akan berpengaruh buruk pada kualitas hidup, produktivitas, dan ekonomi bangsa,” tegas Felicia Julian, Marketing Director Consumer Dairy FFI.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.