Minggu, 15 September 2019

Alasan Orang Gemuk Tak Boleh Olahraga yang Ada Lompatan

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi basket putri 3x3. ANTARA/INASGOC/Ridhwan Siregar

    Ilustrasi basket putri 3x3. ANTARA/INASGOC/Ridhwan Siregar

    TEMPO.CO, Jakarta - Siapapun paham, olahraga sangat baik untuk kesehatan, menjaga kebugaran, dan mencegah penyakit. Bahkan, ada kesimpulan penelitian yang mengatakan olahraga bisa menjadi obat.

    Tapi, berolahraga tidak sepenuhnya baik, tidak seluruhnya menyehatkan, dan juga mencegah penyakit. Ada pula olahraga yang memiliki dampak buruk, menimbulkan penyakit, dan bahkan kematian. Bukan olahraga sebagai kata kerja yang salah, tapi cara seseorang berolahraga yang keliru sehingga menjadi sia-sia atau malah menghasilkan dampak buruk bagi kesehatan.

    Spesialis kedokteran olahraga dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Zaini K. Saragih Sp.KO., menerangkan olahraga yang benar dilakukan secara bertahap, dimulai dengan pemanasan, termasuk peregangan, selama 5-10 menit, dilanjutkan dengan latihan inti 20-60 menit, diakhiri dengan pendinginan 5-10 menit.

    Apapun olahraganya, sebaiknya sebelum berolahraga seseorang memastikan terlebih dulu detak jantungnya tidak lebih dari 100 degup jantung per menit (beat per minute/bpm). Jika seseorang memaksakan olahraga saat detak jantungnya sudah di atas 100 bpm, detak jantung tersebut akan berdegup lebih kencang lagi saat berolahraga sehingga tidak akan mampu menahan beban berat yang mengakibatkan jantung berhenti atau kematian.

    Cara sederhana untuk mengukur detak jantung adalah dengan menghitung denyut nadi di pergelangan tangan selama 15 detik. Jumlah denyut nadi yang didapat kemudian dikalikan empat. Jika detak jantung masih di atas 100 bpm, istirahatlah lebih dulu.

    Ilustrasi bulutangkis. ANTARA/Maha Eka Swasta

    Ada beberapa hal yang mempengaruhi detak jantung berdegup cepat, yaitu gangguan kesehatan jantung, istirahat yang tidak cukup, dan mengonsumsi minuman berenergi. Pantangan lain dalam berolahraga ditujukan bagi seseorang yang memiliki indeks massa (BMI) tubuh melebihi 30 atau masuk kategori gemuk.

    Cara menghitung indeks massa tubuh dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan dalam skala meter, kemudian hasilnya dibagi lagi dengan tinggi badan. Seseorang yang indeks massa tubuh lebih dari 30 dilarang melakukan olahraga yang ada kegiatan melompat. Olahraga yang ada unsur melompatnya, seperti bola basket, lompat tali, bulu tangkis, dan juga lari.

    Zaini memaparkan seseorang yang berlari akan berada pada masa seluruh tubuh melayang di udara sebelum akhirnya kembali mendarat di tanah. Berbeda dengan olahraga jalan cepat di mana telapak kaki tidak pernah lepas dari tanah. Seseorang yang mendarat setelah melompat akan menghasilkan empat kali beban tubuh yang ditopang olah otot-otot kaki.

    Sementara, jika orang dengan indeks massa tubuh lebih dari 30 atau masuk kategori gemuk, bahkan obesitas, melakukan olahraga dengan gerakan melompat akan berdampak buruk pada persendiannya. Efek jangka panjangnya, orang tersebut berisiko lebih tinggi menderita rematik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.