Aplikasi Bank Ini Tawarkan Kemudahan Gaya Hidup Masyarakat Urban

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • kiri - kanan: Direktur Unit Usaha Syariah PermataBank Herwin Bustaman, Abdy D. Salimin - Direktur Teknologi & Operasi PermataBank, Presenter Nadya Mulya pada acara Talkshow Press Launching Sharia Mobile Banking Super App PermataBank Syariah/PermataBank

    kiri - kanan: Direktur Unit Usaha Syariah PermataBank Herwin Bustaman, Abdy D. Salimin - Direktur Teknologi & Operasi PermataBank, Presenter Nadya Mulya pada acara Talkshow Press Launching Sharia Mobile Banking Super App PermataBank Syariah/PermataBank

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Permata meluncurkan layanan perbankan syariah pada platform digital, Shariah Mobile Banking Super App dalam PermataMobile X. Aplikasi ini diharapkan akan memfasilitasi masyarakat Indonesia dengan memberikan pengalaman perbankan yang modern dan mudah. Direktur Utama PermataBank Ridha DM Wirakusumah mengatakan Shariah Mobile Banking Super App dalam PermataMobile X mereka hadirkan untuk memfasilitasi gaya hidup modern masyarakat urban dalam melakukan aktivitas perbankan yang berbasis syariah. "Kami melihat adanya kebutuhan yang tinggi dari pengguna dan peminat layanan perbankan syariah terhadap sebuah super app yang canggih dan modern," katanya dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 10 September 2019.

    Ridha menambahkan aplikasi ini adalah inovasi berbasis syariah yang memiliki fitur lengkap dan teknologi canggih serta kekinian yang dapat mendukung gaya hidup masyarakat Indonesia yang modern namun mudah untuk diakses dan digunakan. 

    Direktur Teknologi dan Operasi PermataBank Abdy Salimin menjelaskan berbagai kemudahan yang bisa dilakukan di aplikasi ini. Nasabah bisa membuka rekening syariah dan membeli produk syariah, seperti reksadana syariah. Tak hanya itu saja, nasabah juga bisa melakukan transaksi syariah melalui PertamaMobile X. "Dalam satu aplikasi bisa melihat produk perbankan yang konvensional dan syariah. Kalau customer inginnya syariah, ya mereka tinggal beli produk syariah," kata Abdy.

    Selain itu khusus bagi masyarakat urban, Abdy berharap aplikasi ini bisa mempermudah berbagai gaya hidup pelanggan. Ia mencontohkan bila pelanggannya ingin memesan tiket pesawat, atau kereta api serta hotel, mereka bisa langsung menggunakan aplikasi ini. Dengan begitu, pelanggan pun tidak perlu lagi mengunduh berbagai aplikasi pemesanan lain yang bisa mengakibatkan beratnya memori telepon genggam. "Kami sudah melakukan banyak kerja sama agar pelanggan bisa melakukan berbagai pemesanan itu. Sekarang juga sudah zamannya super apps," katanya.

    Abdy menambahkan bahwa hal utama yang ia ingin tawarkan ke para pelanggannya adalah pengalaman menggunakan aplikasi ini. Ia berharap berbagai kemudahan dalam aplikasi itu bisa membuat pelanggan tidak perlu datang ke kantor cabang. "Aplikasinya bukan teknologi yang ditonjolkan, tapi experience-nya. Dengan adanya syariah mobile banking, harapannya itu, experience nasabah harus sama ketika dia datang ke kantor cabang," kata Abdy yang memang menargetkan aplikasi ini untuk masyarakat urban usia 25-25 tahun.

    Sebelumnya Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Lebih dari 84 persen dari total penduduk di Indonesia adalah umat Islam. Namun, tingginya jumlah penduduk muslim tidak seimbang dengan pangsa pasar perbankan Islam di Indonesia yang hanya 5,7 persen. Persentase tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan negara-negara muslim lainnya. Selain itu, berdasar pada Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemahaman masyarakat terhadap bank berbasis syariah juga masih relatif rendah jika dibandingkan dengan bank konvensional, hal tersebut yang membuat pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia sangat kecil. Faktor manfaat, fitur, aksesibilitas dan kenyamanan seringkali menjadi pertimbangan bagi masyarakat urban untuk menggunakan jasa perbankan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.