Pentingnya Kecukupan Konsumsi Air Mineral buat yang Kurang Aktif

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi minum air mineral. Shutterstock

    Ilustrasi minum air mineral. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat yang sibuk tapi kurang aktivitas diimbau untuk lebih banyak minum air mineral. Apa sebabnya?

    Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan melalui gaya hidup yang baik dan benar, yakni berolahraga dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang serta air mineral berkualitas, khususnya kepada kalangan yang minim aktivitas fisik.

    Kabid Humas PDUI, dr. Milka Inkiriwang, menjelaskan masyarakat Indonesia di perkotaan cenderung penuh dengan aktivitas yang padat dan sibuk. Sayangnya, kesibukan itu lebih mengarah kepada aktivitas pasif, seperti duduk di depan komputer, diskusi di ruang pertemuan, bermain gawai, dan duduk lama di kendaraan akibat jarak tempuh yang jauh dan macet.

    "Mineral tidak dapat dibentuk oleh tubuh sendiri, sehingga penting untuk mencukupi asupan mineral dengan cara mengonsumsi air mineral berkualitas, buah-buahan, dan sayuran" kata Milka.

    Menurutnya, minimnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh masyarakat pada akhirnya mempengaruhi kecukupan jumlah konsumsi air mineral yang seharusnya setiap hari.

    "Nyatanya, sistem di tubuh membutuhkan air mineral agar dapat berfungsi dengan baik karena air mineral berperan penting sebagai penghantar nutrisi dalam tubuh, membantu metabolisme sel tubuh, memelihara kesehatan kulit, membantu kinerja otot, dan juga memperlancar sistem pencernaan," jelasnya.

    Untuk itu, dia menegaskan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang serta air mineral berkualitas, diimbangi berolahraga berperan penting untuk menjaga kesehatan tubuh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fitur Stiker

    Fitur "Add Yours" Instagram dapat mengundang pihak yang berniat buruk untuk menggali informasi pribadi pengguna. User harus tahu bahaya oversharing.