7 Hal yang Pantang Dicantumkan pada Resume saat Wawancara Kerja

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wawancara kerja. shutterstock.com

    Ilustrasi wawancara kerja. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Jangan berpikir wawancara kerja adalah bagian yang paling penting untuk mendapatkan pekerjaan. Ada bagian yang lebih penting, yaitu resume atau surat lamaran kerja.

    Sebelum mendapat panggilan untuk wawancara, resume adalah hal pertama yang dinilai oleh pihak perusahaan. Jika menurut mereka resume layak dan berkualitas, maka Anda pun akan dijadikan kandidat untuk wawancara.

    Bagaimana cara agar resume bisa dinilai layak dan berkualitas? Apa saja yang sebaiknya dicantumkan dan tidak pada resume? Dilansir dari Allwomenstalk, berikut adalah tujuh hal yang sebaiknya tidak dicantumkan pada resume.

    #Informasi tidak relevan
    Ingat, Anda sedang membuat resume, bukan novel. Resume tak harus panjang. Format resume yang paling disarankan adalah pendek, sederhana, tapi informatif. Karena itu, sebaiknya hapus segala informasi yang tidak relevan dan yang tidak ada kaitan dengan pekerjaan dari resume. Fokuslah pada keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaan, kualitas, dan pengalaman kerja, dan berikan jawaban yang jelas untuk pertanyaan setiap pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara. Tapi, tetap berpegang pada fakta dan sesuaikan resume untuk setiap pekerjaan yang dilamar.

    #Negativitas dan kebencian
    Lupakan semua pengalaman kerja yang buruk yang pernah dialami di masa lalu. Jangan curhat dan menceritakan hal-hal buruk dan berkonotasi negatif pada resume, walaupun itu yang sebenarnya Anda alami dan rasakan. Sebaliknya, cantumkan hal-hal yang positif pada resume dan tunjukkan betapa berharganya Anda sehingga layak dipekerjakan.

    #Hal yang disukai
    Perusahaan tidak perlu benar-benar tahu film favorit, aktor, nama-nama hewan peliharaan, dan sebagainya. Kebanyakan orang cenderung jatuh ke dalam perangkap, di mana mereka mencantumkan berbagai hal dan kegiatan yang mereka sukai pada resume. Tapi Anda tak perlu menyebutkan segala informasi yang tidak relevan dengan pekerjaan yang dilamar. Beberapa hobi yang masih bisa ditoleransi dalam resume di antaranya buku, travel, berkebun, dan olahraga.

    Ilustrasi pria dan wawancara kerja. Shutterstock

    #Lelucon
    Menaruh lelucon di dalam resume adalah hal yang benar-benar tidak profesional dan konyol. Mungkin Anda berpikir itu hal yang lucu, unik, dan bisa menghibur tim rekrutmen perusahaan. Jika sedang sangat membutuhkan pekerjaan, maka ini adalah satu kesalahan besar karena resume akan langsung berakhir di tempat sampah.

    #Kebohongan
    Gunakan kata-kata yang tepat dalam menggambarkan bakat. Bila menggunakan kata yang salah, Anda bisa dinilai telah berbohong walaupun tidak bermaksud demikian. Misalkan, Anda menyebutkan "fasih berbahasa Jerman" dalam resume. Jangan pernah berpikir perusahaan, atasan, atau rekan kerja tidak peduli pada kemampuan itu. Bagaimana jika suatu saat Anda mendapat klien dari Jerman dan dipercaya untuk berhubungan dengan klien itu, dan ternyata kemampuan berbahasa Jerman di bawah rata-rata. Memalukan, bukan?

    #Masalah kesehatan
    Masalah kesehatan yang pernah dialami atau hal-hal yang tidak mempengaruhi kemampuan dalam melakukan tugas atau pekerjaan sebaiknya tetap disimpan sebagai hal yang pribadi. Jika perusahaan tidak bertanya, Anda tak usah bilang-bilang. Anda bisa dipecat hanya karena alasan kesehatan.

    #Alamat email tidak profesional
    Bahkan, hal yang menurut Anda kecil dan terlihat sepele pun bisa mempengaruhi resume, juga nasib lamaran kerja. Alamat email bisa menunjukkan kadar profesionalisme. Sebaiknya, buat alamat email baru yang terdiri dari huruf pertama nama Anda, nama belakang, dan angka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.