Sebab Jumlah Pasien Kelainan Jantung Bawaan di Indonesia Naik

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pemeriksaan kesehatan jantung. Shutterstock

    Ilustrasi pemeriksaan kesehatan jantung. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyakit kelainan jantung bawaan di Indonesia kian memprihatinkan. Menurut spesialis jantung dan ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Radityo Prakoso, sebanyak sembilan dari seribu bayi yang lahir akan mengidap masalah kesehatan ini.

    “Jadi, total dalam satu tahun, terdapat 43 ribu kasus kelainan jantung bawaan di Indonesia,” katanya dalam acara konferensi pers 24th ASEAN Congress of Cardiology di Jakarta pada Jumat, 20 September 2019.

    Lantas, apa yang menyebabkan angka tersebut begitu banyak? Radityo mengatakan bahwa pertama, ini dikarenakan angka kelahiran di Indonesia yang besar. Berbeda dengan negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia memiliki kebijakan untuk melarang aborsi sehingga dengan demikian pasien yang sedang mengandung janin tidak dalam keadaan sempurna pun harus tetap dipertahankan dan dilahirkan.

    “Kalau kelainan jantung bawaan itu masih ringan, biasanya tidak boleh digugurkan. Jadi lahir dan bertambah jumlah pasien kelainan jantung bawaan,” katanya.

    ilustrasi jantung (pixabay.com)

    Selain itu, biaya pengobatan dan terapi untuk penyakit ini tidaklah murah. Radityo mengatakan bahwa satu-satunya asuransi yang bisa membiayai kelainan jantung bawaan adalah BPJS sehingga banyak pasien yang enggan berobat.

    “Untuk ikut BPJS juga diwajibkan membayar iuran bulanan. Bagi mereka yang kurang mampu, pasti memilih untuk mengalokasikan uang untuk kebutuhan lain. Jadi yang sudah lama sakit belum sembuh, yang baru bertambah lagi,” katanya.

    Terakhir, dokter jantung yang memiliki spesialisasi untuk menangani masalah kelainan jantung bawaan ini juga sangat minim. Radityo mengatakan bahwa di Indonesia, dokter jantung sendiri hanya berjumlah 1.350 orang. Sedangkan untuk spesialis kelainan jantung, kurang dari 100 orang.

    “Ini juga meningkatkan jumlah pasien karena dari data di Harapan Kita, pasien yang mau mendapatkan penanganan harus mengantri selama tiga tahun. Jadi mereka tidak sembuh-sembuh,” katanya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.