Kosmetik Ilegal Marak, Artis Diminta Teliti Terima Endorse Produk

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Talkshow BPOM 'Endorse Kosmetik Aman atau Menuai Bencana' pada 25 September 2019/BPOM

    Talkshow BPOM 'Endorse Kosmetik Aman atau Menuai Bencana' pada 25 September 2019/BPOM

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito mengajak para tokoh publik dan artis untuk lebih teliti saat menerima endorse produk kosmetik di media sosial masing-masing. Harapannya agar mereka tidak terjerat persoalan hukum dan merugikan masyarakat. "Pastikan produk yang dipromosikan adalah produk yang telah memiliki nomor notifikasi dari BPOM," kata Penny di dalam diskusi bertema "Endorse Kosmetik Aman" di Jakarta, Rabu 25 September 2019.

    Hadir dalam acara itu sebagai peserta aktif di antaranya selebritis Alyssa Soebandono, Shireen Sungkar, Gisella Anastasia, Fenita Arie, Arzeti Bilbina, Jeremy Thomas, Marcella Zalianty dan Wanda Hamidah. Para pesohor tersebut adalah penerima brand ambassador sejumlah produk kosmetik.

    Penny berpesan kepada para figur publik yang memiliki follower di media sosialnya untuk teliti dalam menerima tawaran endorse suatu produk. "Apa yang dipilih dan digunakan figur publik seringkali menjadi tren di masyarakat. Maka mari ajak masyarakat hanya memilih dan menggunakan kosmetik aman dan lebih teliti terutama untuk produk daring," katanya.

    Sepanjang tahun 2019, nilai keekonomian temuan kosmetik ilegal hingga bulan Agustus mencapai 31 miliar rupiah. Sementara tahun 2018 lalu, dari total temuan Obat dan Makanan ilegal sebanyak 164 miliar rupiah, 125 miliar rupiah diantaranya adalah temuan kosmetik ilegal. Tingginya angka temuan kosmetik ilegal ini secara tidak langsung menunjukkan adanya demand yang tinggi dari masyarakat.

    Kosmetik merupakan komoditi yang digunakan oleh semua kelompok usia mulai dari bayi hingga orang tua, baik pria maupun wanita. Peredaran kosmetik dinamis terhadap perkembangan zaman. Pada era digital ini, perubahan gaya hidup, terutama tingginya penggunaan internet sangat mempengaruhi perubahan pola perdagangan kosmetik. Hal ini ditunjukkan dengan makin gencarnya pelaku usaha dalam melakukan promosi produk terutama di media online, salah satunya dengan melibatkan tokoh publik.

    Penny mengatakan pertumbuhan industri dan peredaran kosmetik di Indonesia menjadi perhatian khusus Badan POM. "Masih maraknya temuan kosmetik ilegal di masyarakat, menunjukkan masih kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk memilih dan menggunakan kosmetik yang aman,” kata Penny. “Makin gencarnya promosi produk kosmetik, ditambah dengan makin banyaknya public figure yang turut mempromosikan produk kosmetik, belum diimbangi dengan tingkat pengetahuan dan kepedulian masyarakat tentang kosmetik yang aman,” lanjutnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.