Pentingnya Deteksi Dini untuk Cegah Dampak Kabut Asap pada Paru

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa membawa poster saat melakukan aksi demonstrasi protes perubahan iklim ketika kabut asap menutupi kota akibat kebakaran hutan di Palangka Raya, provinsi Kalimantan Tengah, 20 September 2019 REUTERS/Willy Kurniawan

    Massa membawa poster saat melakukan aksi demonstrasi protes perubahan iklim ketika kabut asap menutupi kota akibat kebakaran hutan di Palangka Raya, provinsi Kalimantan Tengah, 20 September 2019 REUTERS/Willy Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Berbagai penyakit bisa menyerang akibat paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, terutama yang berkaitan dengan masalah pernapasan dan paru-paru.

    Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyatakan deteksi dini perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan sekunder terhadap kemungkinan munculnya gejala penyakit paru yang dapat menyebabkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan, terutama di tengah kabut asap yang terjadi di wilayah yang terkena dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    "Tapi, bila sudah muncul batuk-batuk kemudian sesak napas, berdahak, tentunya harus segera ke dokter karena pertolongan terpenting adalah bagaimana peradangan yang muncul karena iritan dapat diberikan obat sehingga keluhannya berkurang," kata Ketua Pengurus Harian PDPI Dr. Agus Dwi Susanto usai Konferensi Pers PDPI untuk memperingati Hari Paru Sedunia di Kantor PDPI di Jakarta, Kamis, 26 September 2019.

    Di tengah kabut asap yang melanda wilayah Kalimantan Tengah, Riau, Jambi dan wilayah lain, Agus mengimbau masyarakat untuk mengenali kemungkinan munculnya gejala penyakit paru yang dapat menyebabkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan.

    Batuk.

    Cara mengenali kemungkinan risiko tersebut adalah dengan deteksi dini. Namun, apabila sudah muncul batuk-batuk, sesak napas, batuk berdahak, maka penderita harus segera ke dokter untuk mendapatkan pertolongan pertama. Apabila seseorang mengalami sesak napas karena menghirup udara kotor akibat karhutla selama
    berbulan-bulan, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah dengan berupaya sesegera mungkin mencari udara yang segar.

    "Salah satunya dengan pergi ke rumah singgah yang kualitasnya bagus," ujarnya.

    Pada penderita asma, pertolongan pertama yang perlu diberikan adalah obat yang dapat melegakan saluran pernapasan. Agus mengatakan berdasarkan data PDPI, kabut asap yang terjadi di wilayah yang terkena dampak karhutla telah menimbulkan banyak keluhan pernapasan dari masyarakat.

    Keluhan pernapasan yang banyak muncul akibat kabut asap adalah batuk berdahak, sakit tenggorokan, bahkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Kabut asap akibat karhutla dapat menimbulkan dampak jangka pendek dan jangka panjang bagi para korban yang terdampak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.