Angka Keberhasilan Pengobatan TB MDR Rendah, Cek Alasannya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis Multi Drug Resistance (TB MDR) di Indonesia sangat rendah. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2018, hanya 2.500 pasien yang sembuh dari total 23 ribu penyandang TB MDR.

    Mengapa angka kesembuhan tersebut sangat minim? Kepala Sub Direktorat Tuberkulosis Kementerian Kesehatan, dr. Imran Pambudi, menjelaskan bahwa pertama, ini disebabkan oleh angka kematian yang tinggi. Menurutnya, pasien yang meninggal tersebut belum sempat mendapatkan pengobatan yang efektif saat mengalami TB MDR.

    “Kemungkinan besar karena mereka terlambat diagnosis dan memulai pengobatan sehingga sudah TB MDR tahap parah dan meninggal,” katanya dalam acara Training of Trainer TB-MDR di Jakarta pada Senin, 30 September 2019.

    Alasan lain yang mendasari jumlah kesembuhan yang rendah itu juga disebabkan oleh angka putus berobat yang tinggi. Menurut Imran, seseorang yang sudah dinyatakan positif TB MDR memang harus menjalani serangkaian pengobatan. Dengan demikian, efek samping penggunaan obat yang banyak itu menyebabkan setiap orang berhenti.

    Ilustrasi kuman tuberculosis atau TBC (pixabay.com)

    “Saat TB reguler, bakteri mycobacterium tuberculosis itu sudah kebal dengan obat lini pertama. Kalau dicobakan dengan lini kedua khusus untuk TB MDR juga tidak diselesaikan pengobatannya, bakteri tersebut pun semakin sulit dimatikan. Akhirnya pengobatan gagal,” katanya.

    Kurangnya dukungan dari orang sekitar ataupun komunitas juga sangat berpengaruh pada angka keberhasilan pengobatan TB MDR. Imran mengatakan bahwa mengonsumsi pengobatan yang sangat banyak dan tak boleh berhenti itu akan berpengaruh secara psikis dan mental. 

    “Itulah kenapa dukungan dari orang terdekat agar pasien semangat menjalani pengobatan sangat penting. Kalau keluarga atau orang sekitarnya acuh tak acuh, kasihan pasien bisa putus asa dan akhirnya pengobatan tidak selesai dijalani,” jelasnya.

    Tak heran, Imran menyarankan pentingnya melakukan deteksi dini, mematuhi konsumsi rangkaian pengobatan, dan dukungan penuh dari orang terdekat.

    “Karena menurut data kami di Kemenkes, tiga hal ini yang menyebabkan angka keberhasilan pengobatan TB MDR rendah. Jadi kalau Anda sudah tahu sekarang, segera lakukan perbaikan seperti himbauan kami,” sarannya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Atlet E-Sport, Jadi Miliarder Berkat Hobi Bermain Video Game

    Dunia permainan digital sudah bukan tidak bisa dipandang sebelah mata. Kini, para atlet e-sport mampu meraup miliar rupiah hasil keterampilan mereka.