Luangkan 10 Menit untuk Bermain dengan Anak, Rasakan Manfaatnya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ibu dan anak bermain di taman bermain. (Purewow /Cavan Images/ Getty Images)

    Ilustrasi ibu dan anak bermain di taman bermain. (Purewow /Cavan Images/ Getty Images)

    TEMPO.CO, Jakarta - Bermain bersama anak kini tampaknya menjadi kesempatan langka buat banyak orang tua. Perkembangan teknologi telah mengurangi kesempatan itu karena anak dan orang tua sama-sama sibuk dengan gawai.

    Bermain bukan cuma hiburan bagi anak tetapi juga aktivitas yang penting untuk tumbuh kembang si kecil. Bermain juga bisa jadi sarana mengeratkan hubungan antara orang tua dan anak.

    Sesibuk apa pun orang tua bekerja, sempatkan waktu sejenak untuk bermain dengan anak setiap hari meski hanya beberapa menit.

    "Setidaknya rutinlah bermain dengan anak selama 10 menit per hari," kata psikolog Alfa Mardhika usai acara Cussons Bintang Kecil di Jakarta, Selasa, 8 Oktober 2019.

    Menghabiskan waktu berkualitas dengan mengajak bermain akan membuat anak merasa dirinya berharga dan dicintai. Sepuluh menit itu bisa dilewatkan dengan permainan apa saja, yang penting anak merasa senang. Orang tua bisa memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitar atau menggunakan mainan yang sudah ada.

    "Koran bekas juga bisa jadi mainan, misalnya dijadikan bola," jelasnya.

    Menurut Alfa, anak-anak bisa bermain meski tanpa mainan karena yang paling ia butuhkan adalah perhatian dari orang tua. Bila anak dibiarkan bermain sendirian tanpa ditemani orang tua, ia akan merasa tidak dihargai dan disayangi. Dampaknya akan terasa ketika anak tumbuh dewasa.

    Ilustrasi anak bermain. (Foto: Tempo/Francisca Christy Rosana)

    "Kalau dari kecil sudah bonding dan dekat dengan orang tua, saat remaja dia akan menganggap orang tua sebagai orang pertama untuk bercerita," tambah Alfa.

    Namun, patut untuk diingat bahwa mengajak anak bermain berbeda dengan mengintervensi. "Prinsip utama bermain itu bermain bebas, tidak ada yang benar atau salah. Biarkan anak berimajinasi," ujarnya.

    Jadikan anak pemimpin yang menentukan arah hingga jenis permainan untuk merangsang kreativitasnya. Dampingi dan ikuti alur permainan yang diinginkan si kecil. Hati-hati dalam melontarkan-komentar yang bisa mengecilkan hati anak.

    "Misalnya, anak mewarnai gunung dengan gambar merah, enggak perlu 'Kok warnanya begitu?'" katanya.

    Terlalu banyak mendengar kritik seperti itu dari orang tua atau orang terdekat saat bermain bisa menumbuhkan rasa tidak percaya diri pada anak. Si kecil juga nanti mudah merasa takut salah dalam melakukan sesuatu. Bagi anak, bermain bukan cuma aktivitas menyenangkan, tetapi krusial untuk perkembangannya di masa depan.

    Alfa menuturkan bermain bisa mengembangkan kemampuan sosial, keterampilan tubuh, dan juga berdampak pada intelegensia anak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.