YLKI : Konsumen Hanya Baca Varian Rasa dan Status Halal Produk

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memeriksa barang bukti saat rilis kasus penyelundupan barang ilegal di Lapang Reskrimsus, Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Agustus 2019. Dalam kasus tersebut, polisi menyita barang bukti berupa kosmetik, obat-obatan, bahan pangan hingga produk elektronik. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memeriksa barang bukti saat rilis kasus penyelundupan barang ilegal di Lapang Reskrimsus, Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Agustus 2019. Dalam kasus tersebut, polisi menyita barang bukti berupa kosmetik, obat-obatan, bahan pangan hingga produk elektronik. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan peringatan dan imbauan kesehatan pemanis buatan produk makanan dan minuman saat ini masih tidak informatif. Akibatnya, masih banyak konsumen kategori rentan mengkonsumsinya. "Tetapi faktanya berbicara lain, dengan peringatan kesehatan yang sangat minim dan tidak informatif kami menduga pesan kesehatan tidak sampai dan akhirnya banyak ibu-ibu dan anak-anak yang mengkonsumsinya," ujar Ketua Harian YLKI Tulus Abadi dalam konferensi pers yang diadakan di Jakarta, Jumat 11 Oktober 2019.

    Kesimpulan tersebut didapat setelah YLKI mengadakan survei dengan 90 responden dari kaum rentan yang disarankan tidak mengkonsumsi pemanis buatan seperti ibu hamil, menyusui dan yang memiliki anak balita. Dalam survei yang diadakan pada Maret sampai April 2019 di Jakarta Selatan itu, YLKI mendapatkan fakta 47 persen mengetahui lebih dari 10 produk dari 25 produk mengandung pemanis buatan yang dijadikan sampel oleh YLKI.

    Empat produk sampel yang paling sering dikonsumsi adalah tiga jenis minuman serbuk dan satu bumbu masakan yang mengandung pemanis buatan. Kebanyakan dari responden tidak mengetahui nama jenis pemanis buatan dalam produk yang mereka konsumsi. Alasannya karena kebanyakan tidak membaca informasi pangan atau peringatan dan imbauan kesehatan yang ada di kemasan, dengan 51 persen responden mengaku jarang membaca informasi di kemasan.

    Jika membaca, yang dicari 47,8 persen responden adalah varian rasa produk dan 36,7 persen adalah tentang status halal yang dimiliki produk tersebut.

    Berdasarkan fakta tersebut, YLKI mengusulkan agar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan pengawasan lebih ketat dan menyampaikan informasi kepada konsumen kategori rentan agar memahami maksud imbauan kesehatan di kemasan produk. "Yang bisa kita lihat dari survei ini bisa disimpulkan bahwa pengawasan pascapasar oleh Badan POM kurang efektif sehingga pesan-pesan kesehatan yang seharusnya menjadi pesan kepada konsumen tertentu ternyata tidak sampai," kata Tulus.

    Pemanis buatan adalah golongan bahan tambahan pangan (BTP) yang tidak memiliki kandungan gizi. Di Indonesia sendiri, ada 13 jenis pemanis buatan yang diizinkan dipakai dalam industri pangan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat pemanis buatan yang memiliki dampak negatif seperti sakarin yang sudah dilarang di beberapa negara, namun masih diizinkan dipakai di Indonesia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.