Istri TNI Nyinyir di Media Sosial, Alasan Ada Unggahan Negatif

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bermain media sosial. (Unsplash/Leon Seibert)

    Ilustrasi bermain media sosial. (Unsplash/Leon Seibert)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabar tentang pencopotan jabatan beberapa anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih hangat diperbincangkan publik. Seperti yang banyak disiarkan, hal tersebut terjadi lantaran istri mereka yang nyinyir tentang kasus penusukan Wiranto di media sosial

    Melansir dari situs Psychology Today, ucapan negatif di media sosial bisa disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya dari segi unjuk gigi karena status sosial yang tinggi. Psikolog dari Universitas Texas di Amerika Serikat, William Lynch, mengatakan bahwa mereka merasa lebih superior sehingga bebas mengatakan apapun juga. 

    “Mereka bisa saja kaya atau populer. Ini menjadi senjata untuk melontarkan kalimat negatif dan menjatuhkan orang lain yang lebih rendah derajatnya dibanding mereka,” katanya.

    Alasan lain juga bisa berupa kerinduan akan hiburan. Lynch mengatakan bahwa banyak orang merasa bosan dengan waktu senggang. Untuk mencari kebahagiaan di era teknologi ini, mereka pun menggunakan media sosial untuk mengintimidasi orang lain. 

    “Mereka tertarik untuk bersenang-senang dan menertawakan orang lain. Jika korban merespons, justru menjadi tanggapan terbaik bagi mereka,” jelasnya.

    Terakhir, mereka yang sering melontarkan kalimat negatif di media sosial bisa disebabkan oleh keinginan untuk balas dendam. Lynch menjelaskan bahwa terkadang banyak orang yang menyaksikan korban intimidasi. Karena merasa tidak ada cara lain untuk mengejar keadilan, mereka pun membalas dendam dengan melakukan hal serupa. Sayangnya, ini bukan hal yang benar untuk dilakukan.

    “Karena ini hanya akan melanggengkan siklus intimidasi dan ketakutan yang sama,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.